Warga Tuntut SPBE Direlokasi

BANTUL – Warga Dusun Keongan, Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul menuntut adanya relokasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji yang berdiri di dekat pemukiman penduduk. Keberadaan SPBE itu ditengarai melanggar sejumlah aturan. Sejak 6 September lalu, warga Keongan memasang spanduk bertuliskan penolakan terhadap SPBE di wilayah mereka. Humas warga Keongan yang menolak SPBE, Jumai Hajar Dewantoro, 39, menyatakan izin operasi SPBE itu sudah berakhir sejak 5 September lalu.

Saat ini SPBE itu tidak mendapat izin dari warga. “Sebenarnya habis Januari tapi diperpanjang sampai dengan 5 September, warga tidak ada yang tanda tangan untuk memberikan izin gangguan”, ungkapnya saat ditemui Harian Jogja di Keongan, Rabu (10/9).

Sejumlah alasan penolakan SPBE itu antara lain SPBE kerap mengeluarkan bau gas yang tercium penduduk sekitar. “Di Indonesia memang belum pernah mendengar kecelakaan di SPBE tapi ledakan pipa gas yang sering terjadi itu sebenarnya membuat warga tidak percaya dengan sistem pengamanan SPBE,” ujar Jumai yang pernah bekerja di PT. Badak LNG itu.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Dokumen Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Bantul Priya Haryanta mengatakan dari sisi izin lingkungan, SPBE itu tidak bermasalah. PT. Pertamina juga menyakinkan bila jarak antara rumah penduduk dan SPBE minimal 15 meter diperbolehkan. “Kalau warga bilang ada gas yang tercium itu untuk indikator kebocoran gas. Kalau terus menerus bau tandanya bocor, kalau hanya sementara tidak bocor,” ungkapnya. (Bhekti Suryani)

Sumber: Harian Jogja, Kamis 11 September 2014 Halaman 5

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *