Warga Keongan Minta SPBE Manding Direlokasi

BANTUL, TRIBUN – Kemarahan warga Keongan, Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul tak bisa di bendung lagi. Warga merasa ditelikung dengan perpanjangan izin Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) di dekat permukiman, yang sebelumnya telah mereka tolak.

Warga melihat ada indikasi perpanjangan izin untuk SPBE tersebut akan dikabulkan tanpa persetujuan warga. Sebab meski mereka menolak, namun justru muncul surat edaran dari  Lurah desa yang meminta warga untuk menyetujuinya.

Humas warga Keongan, Jumei Hajar Dewantara mengatakan, blangko yang diterima warga sudah tercantum tanda tangan dari warga sekitar. Namun yang membubuhkan tanda tangan justru warga yang lokasi tempat tinggalnya jauh dari SPBE. “Warga secara tegas meminta untuk relokasi. Kami juga tidak meminta kompensasi,” kata Jumei saat ditemui di kediamannya di Keongan, Rabu (10/6).

Saat ini, warga mencium bau gas menyengat yang bersumber dari SPBE tersebut. Menurut Jumei, warga khawatir bila suatu saat terjadi sesuatu yang membahayakan dari SPBE.

Warga yang memiliki sawah di dekat SPBE juga khawatir saat akan membakar jerami sisa panen sawah. Mereka menjadi kesulitan untuk memusnahkan jerami-jerami tersebut. “Jaraknya hanya 50 meter dari rumah saya. Kurang tau pasti jarak amannya berapa. Tapi dekat sekali,” keluh Jumei.

Ia juga merasa heran mengapa SPBE tersebut masih beroperasi. Padahal, izinnya telah habis pada tanggal 5 September lalu. “Warga siap untuk menempuh jalur lain bila pemerintah tidak merelokasi,” tambahnya.

Terpisah Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Pencemaran dan Dokumen Lingkungan Hidup (Dalcemdok) LH Kabupaten Bantul, Priya Hariyanta memaparkan, dokumen lingkungan dari SPBE Manding sudah ada semenjak tahun 2009. Dokumen itu selalu direvisi setiap enam bulan sekali dan telah dilakukan uji laboratorium.

Menurut Priya, wajar saja jika warga mencium aroma gas di sekitar SPBE. Pengelola memang memberi zat penimbul bau agar segera diketahui bila terjadi kebocoran.

Terkait jarak yang terlalu dekat dengan pemukiman, Priya mengaku jika itu sepenuhnya kewenangan Pertamina. Sejauh yang ia ketahui, Pertamina telah melakukan pengkajian dan tidak ada masalah soal itu.

“Warga tak perlu khawatir kalau baunya hanya sebentar. Kalau terus berkelanjutan, itu yang baru berbahaya,” terang Priya. (say)

Sumber: Tribun Jogja, Kamis 11 September 2014 Halaman 5

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *