Tambak Udang – Petani Sebut Ada Backing

BANTUL РBisnis tambak udang di pesisir pantai selatan ditengarai dibackingi  orang berduit. Sebagian petani lahan kini menyerahkan lahan mereka untuk dijadikan tambak.

Seorang petani di area Pantai Parangkusumo di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Sarjiman, mengungkapkan lebih dari 10 kolam tambak udang kini berdiri di wilayahnya semula merupakan bekas lahan pertanian warga.

Para petani yang tergabung dalam Kelompok Pasir Subur merelakan lahan mereka dijadikan tambak karena satu per satu anggota didatangi orang tertentu. Orang itu dicurigai mengorganisir para petani untuk menyerahkan lahan ke petambak udang.

“Yang saya tahu itu, teman-teman petani didatangi satu per satu ke rumah. Ditawari untuk lahannya digunakan tambak, lalu disuruh tanda tangan,” ungkap Sarjiman di Parangkusumo selasa (16/9). Namun, dia mengaku tidak mengenal siapa orang tersebut. Yang dia tahu, rekan-rekannya sesama petani kini menyerahkan lahan mereka yang diubah menjadi tambak meski alih fungsi lahan pertanian itu dilakukan tanpa ada konsultasi dengan organisasi kelompok tani.

Beralih fungsinya lahan pertanian menjadi tambak membuat jumlah petani yang aktif di kelompok tani terus berkurang. Di Kelompok Pasir Subur misalnya, yang aktif sekarang hanya sekitar 25 orang.

Selain itu, dari sisi pertanian, Sarjiman mengaku telah merasakan dampak buruk akibat adanya tambak udang. Produktifitas lahan pertaniannya kini menurun drastis ¬†dibanding musim kemarau tahun lalu sebelum ada tambak udang. “Kalau enggak disiram terus, kering karena uap air asin dari kincir itu. Jelas merusak, petani yang dirugikan,” ungkapnya.

Kepala Desa Parangtritis Topo membantah bisnis tambak udang dikoordinir dan di back up orang berduit. Pengelola dan pemilik tambak itu adalah kelompok warga setempat dan menuduh petani yang mengklaim lahannya rusak tambaknya hanya asal bicara.

“Saya hapal kondisi wilayah saya,” ujarnya, Rabu (17/9). Topo juga menyinggung rencana Pemerintah Kabupaten Bantul menutup tambak itu pada akhir tahun. Kebijakan itu diyakini akan sia-sia setelah ditutup karena lahan bekas tambak tidak difungsikan. Kalau dibiarkan saja, masyarakat akan bikin tambak lagi mengingat selama ini keberadaan tambak membantu perekonomian warga.

Kepala Polres Bantul Ajun Komisaris Besar Polisi Surawan sebelumnya tidak memungkiri keterlibatan pemodal dari luar Parangtritis yang beroperasi di tambak. “Salah satunya mantan pejabat Pemerintah DIY,” ucapnya.

Sumber: Harian Jogja, Kamis 18 September 2014 Halaman 5

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *