Tambak Udang – Dianggap Mencemari Areal Pertanian

BANTUL – Tambak udang di pesisir selatan Bantul diduga telah mencemari lahan pertanian di sekitarnya. Badan Lingkungan Hidup (BLH) telah meneliti kadar keasaman (PH) tanah dan air di sekitar area tambak.

BLH Bantul melansir hasil penelitian sementara terkait dampak lingkungan yang ditimbulkan tambak udang. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Dokumen Lingkungan BLH Bantul, Priya Haryanta menyatakan lembaga telah mengambil sampel air dan tanah di sekitar lokasi tambak udang.

Di area Pantai Samas ditemukan kadar keasaman (PH) tanah pertanian di sekitar tambak tercatat sebesar 7,82. PH sebesar itu bukan kadar keasaman yang ideal bagi lahan pertanian. Kadar keasaman yang ideal bagi pertanian sekitar 6,5 meski kadar keasaman dengan angka tujuh masih dianggap normal.

“Bila lewat dari angka tujuh akan semakin basa. Sebaliknya kalau turun misal sampai 4,5 maka semakin asam. Tapi apakah mempengaruhi produksi pertanian saya tidak bisa menyimpulkan,” ucapnya, Jumat (19/9).

Tingginya kadar keasaman pertanian di sekitar tambak udang tersebut diduga disebabkan dua hal. Pertama karena tercemar air atau limbah tambak udang yang mengintrusi atau merembes ke lahan pertanian. Kedua karena genangan air payau saat pasang.

BLH mengambil sampel tanah pertanian yang berjarak sekitar tiga meter dari kolam tambak. “Bisa juga disebabkan intrusi air atau limbah dari tambak, kami (BLH Bantul) belum teliti,” ungkap Priya. Selain meneliti kadar keasaman tanah, BLH juga mengkaji kadar keasaman air tawar di sumur dekat tambak.

Ditemukan kemiripan tingkat PH air sumur dan air di tambak udang. Pada air sumur, kadar keasamannya sebesar 7,2, sedangkan air tambak udang memiliki kadar keasaman 7,16. Lagi-lagi Priya Haryanta belum dapat memastikan apakah kemiripan kadar keasaman air sumur dengan tambah tersebut akibat intrusi air tambak ke dalam sumur.

Kepala BLH Bantul Edi Susanto mengatakan instansinya bukan eksekutor untuk menindak tambak udang berdasarkan temuan lingkungan tersebut. Hasil penelitian itu akan disampaikan ke Bupati untuk menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. (Bhekti Suryani)

Sumber: Harian Jogja, Sabtu 20 September 2014 Halaman 5

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *