Tambak Bisa Cemari Laut Selatan

BANTUL – Kepala badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bantul menyatakan, keberadaan ratusan tambak udang di wilayah pesisir selatan sangat rentan menimbulkan masalah lingkungan. Meski diakui, tambak-tambak itu menopang ekonomi warga.

Kepala Bappeda Bantul Tri Saktiyana menyatakan, keberadaan tambak-tambak itu mengurangi tutupan pohon tau area hijau di sekitar pantai selatan. Padahal pohon-pohon itu berguna sebagai penahan abrasi maupun tsunami. “Kalau enggak ada pohon atau penghalang, air bisa mudah masuk,” terang Tri Saktiyana.

Tidak hanya itu, keberadaan tambak berpotensi mencemari perairan laut selatan akibat limbah yang dibuang ke laut. Limbah dari tambak udang, menurut dia, mengandung zat-zat kimiawi yang berasal dari pakan ternak.

Tri mengatakan, ada ratusan tambak yang semuanya akan membuang limbah ke laut. “Bayangkan saja ada ratusan tambak, semuanya membuang limbah ke laut, memang harus diakui potensi pencemaran lingkungannya ada,” ujarnya.

Meski diakuinya belum diketahui apakah tambak-tambak itu menyediakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) atau tidak. Belum lagi keluhan petani mengenai kabut asap dari tambak yang mengenai lahan pertanian di sekitarnya sehingga menurunkan kualitas tanaman pangan di pesisir.

Tri Saktiyana mengusulkan tambak-tambak itu ditata sedemikian rupa, tanpa harus ditutup. Misalnya, tetap menyediakan area hijau di dekat pantai serta kewajiban bagi pengelola tambak untuk membangun IPAL agar limbah tidak mencemari laut selatan yang menjadi penghasilan ribuan nelayan di selatan DIY.

Ekonomi Warga

Kendati dianggap sarat pencemaran lingkungan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul Edi Mahmud menilai, kondisi tambak udang itu tidak seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. “Kalau melihat dari sisi lingkungan pasti menilainya begitu, kenapa kabut dari tambak dipersoalkan tapi paparan air asin dari laut enggak dipersoalkan,” ujarnya.

Edi menilai tambak tersebut berjasa besar dalam meningkatkan ekonomi warga pesisir. Sebab hasil produksi udang diekspor ke luar negeri dengan harga yang menurutnya tinggi. Satu kilogram udang dijual seharga Rp 83.000-Rp 90.000.

Ia menyebut ada sebanyak 223 tambak udang di pesisir selatan Bantul yang sementara tercatat pemerintah. “Jadi sebenarnya yang penting, tambak itu dikelola dengan benar supaya tidak mencemari lingkungan,” ungkapnya lagi. Bhekti Suyani

Sumber: Harian Jogja, Senin 7 April 2014

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *