Tak Inginkan Tambang Pasir Besi

Petani Lahan Pantai Berencana Surat Menteri Negara Lingkungan Hidup

WATES, KOMPAS – Paguyuban Petani Lahan Pantai  Kulon Progo berencana mengirim surat kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar agar membatalkan kontrak karya PT Jogja Magasa Iron terkait rencana penambangan pasir besi. Petani akan memperkarakan bukti-bukti bahwa usaha pertanian yang mereka lakukan lebih ramah lingkungan.

Koordinator lapangan Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Widodo, Minggu (22/2), menuturkan surat segera dikirim setelah PPLP selesai mengumpulkan data dan fakta mengenai pertanian lahan pantai. Inventarisasi data itu sudah dilakukan sejak akhir 2008 dan selesai beberapa hari lagi.

Data tersebut akan mencangkup luas lahan pertanian yang akan terancam pertambangan, jumlah warga yang berpontensi kehilangan pekerjaan, serta jumlah rumah yang mungkin terkena ancaman penggusuran. “Data yang memiliki pemerintah dan penambang masih dianggap belum sesuai dengan kondisi nyata di lapangan, “kata Widodo, dalam acara doa bersama warga PPLP di Masjid Al-Mutaqien, Dusun Siliran, Desa Karangsewu, Galur.

Mekanisme pengiriman surat tersebut, lanjut anggota PPLP, sapar, diserahkan kepada kuasa hukum PPLP, yakin Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta.” Kami akan berupaya sekuat tenaga agar rencana penambangan pasir besi di pesisir Kulon progo digagalkan,” Ujarnya.

Upaya petani tersebut mendapat dukungan dari ahli tanah Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada, Dja’far Shiddieq. Beberapa waktu lalu, Dja’far bersama sejumlah pakar pertanian bahkan sudah melakukan penelitian di pesisir pantai Kulon Progo.

“Hasil penelitian kami memperlihatkan bahwa sistem pertanian yang dilakukan petani tidak hanya menguntungkan tapi juga ramah lingkungan,” katanya.

Dari hasil penelitian Dja’far terungkap, penanaman cabai merah di lahan 0,1 hektar saja memberikan pendapatan lebih dari Rp 10 juta per musim. Komoditas sayuran, bawang merah, dan semangka yang ditanam di atas luas lahan yang sama rata-rata mampu memberi keuntungan Rp 1juta – Rp 5 juta per musim.

Hasil pertanian tersebut, apa bila digarap secara lebih serius dan diberi sentuhan teknologi akan berkembang hingga dua kali lipat.

Secara matematis, dengan penambahan materi bentonit, petani mampu mendapatkan penghasilan hingga Rp 136 juta per tahun untuk setiap hektar tanah. Jika upaya ini dioptimalkan oleh pemerintah daerah terhadap 2.987 hektar lahan pasir yang akan ditambang, potensi pendapatan daerah bisa mencapai lebih dari Rp 400 miliar per tahun. (YOP)

Sumber: KOMPAS,  Senin, 23 Februari 2009

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *