SMK 7 Tahan Ijazah Siswa Miskin

YOGYAKARTA – Praktik penahanan ijazah tetap saja terjadi meski sudah ada larangan keras. Kali ini penahanan dilakukan oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 7 Yogyakarta terhadap salah satu siswanya.

Penahanan ijazah dilakukan karena siswa tersebut belum juga membayar uang sekolah dari awal masuk hingga lulus. Jumlah tunggakan yang harus dibayar siswa ini mencapai sekitar Rp5juta. Karena merasa dipersulit dalam pengambilan ijazah ini, sang siswa lantas melaporkan ke Lembaga Ombudsman Daerah (LOD) DIY. Laporan dengan cepat ditindaklanjuti LOD. Kemarin, LOD melakukan klarifikasi kepada Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Yogyakarta.

Asisten Pokja Bidang Sosial dan Penguatan Jaringan LOD DIY M Rifki Taufikurrahman mengatakan, dari hasil klarifikasi diketahui, siswa tersebut sejak awal masuk hingga lulus memang belum membayar uang sekolah dengan tunggakan mencapai Rp 7,4 juta. Disdik sendiri sebenarnya sudah memberikan bantuan, namun tidak dapat melunasi semua karena hanya dibantu Rp1,6juta. Sehingga siswa tersebut masih memiliki tunggakan sebesar Rp5,8juta. “Belum dapat ter-cover-nya ini lantaran siswa tersebut berasal dari luar Yogyakarta, sehingga siswa tersebut tidak masuk dalam program pembiayaan warga miskin kota.

Karena masih ada tunggakan itulah, maka SMK 7 Yogyakarta menahan ijazah siswa sampai kini. Rifki menyayangkan penahanan ini karena sesuai dengan aturan sekolah tidak boleh menahannya.

Setelah mendapatkan penjelasan dari Disdik Kota Yogyakarta, pihaknya dalam waktu dekat akan menjembatani atau mempertemukan antara pelapor dan sekolah. Diharapkan segera ada jalan keluar terbaik sehingga antara kedua belah pihak tidak ada yang dirugikan.

Namun, sebelum melakukan itu, pihaknya akan terlebih dahulu melakukan klarifikasi dengan pelapor, terutama soal kesanggupan membayar kekurangan uang sekolah tersebut, meskipun pembayarannya tidak tunai.

Rifki menambahkan, selama 2011, pihaknya telah mendapatkan tiga laporan soal penahanan ijazah siswa yang dilakukan oleh pihak sekolah. Kasus pertama di SMK Muhammadiyah 1 Bantul, kemudian SMA 1 Yogyakarta dan terakhir SMK 7 Yogyakarta. Dari tiga kasus ini, untuk SMK Muhammadiyah Bantul sudah terselesaikan. Untuk SMA 1 Yogyakarta, selain ditahan, juga ada ijazah yang belum diambih dengan jumlah 50 ijazah. Sedangkan SMK 7 Yogyakarta masih dalam proses penanganan. “Jumlah kasus tahun ini meningkat jika dibandingkan dengan kasus yang sama pada tahun lau. Sebab untuk tahun lalu hanya ada satu kasus ijazah yang ditahan,” jelasnya.

Kepala Disdik Kota Yogyakarta Edy Heri Suasana mengatakan, apapun alasannya penahanan ijazah siswa oleh sekolah baik negeri maupun swasta tidak dibenarkan. Apalagi, untuk menutup kekurangan uang sekolah tersebut sudah ada anggaran dari pemerintah, baik kota maupun provinsi. Jika kota atau kabupaten anggarannya kurang, bisa dibantu anggaran yang ada di provinsi.

Sementara itu, pihak SMK 7 Yogyakarta belum dapat bisa dikonfirmasi terkait hal ini. Kepala sekolah tersebut, Titi Komah Narastuti tidak memberikan jawabansaat dihubungi melalui ponselnya kemarin.

Priyo Setyawan

Sumber: Seputar Indonesia Sabtu, 6 Agustus 2011 Halaman 16 Kolom 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *