SISWA SD SRUNEN

Kini Kembali ke Banjarsari

SLEMAN (KR) – Jumlah siswa yang belajar di SD Darurat, Banjarsari, terus bertambah. Rabu (12/10), tingkat kehadiran siswa mencapai 125 siswa atau 83,89 persen dari total 149 siswa yang kembali ke Banjarsari. Angka ini menunjukkan orangtua siswa SD Srunen yang berpindah ke selter tersebut memperbolehkan anaknya untuk kembali belajar di sekolah legal.

Menurut Kepala Sekolah SD Srunen, Prihyanto, kenaikan kehadiran siswa terus bertambah sejak Rabu (5/10) yaitu 81 siswa yang hadir. “Hari-hari berikutnya bertambah hingga sekarang berjumlah 125 siswa,” ujarnya. Dari data sekolah, 125 siswa tersebut kesemuanya berasal dari Kalitengah Lor 47 siswa, Kalitengah Kidul 21 siswa, Srunen 42 siswa, Singlar 14 siswa dan satu siswa dari Balerante Klaten.

Menurut Prihyanto, baru ada satu orangtua siswa yang mengurus surat pindah dan itu dilakukan Rabu (12/10). “Tapi belum diuurus hingga tingkat kabupaten,” katanya. Jika ada perpindahan siswa antar kabupaten, pengurus harus dilakukan hingga tingkat pendidikan Dinas Pendidikan setempat.

Ditambahkan, ada lima siswa yang sudah sekolah di SD Balerante namun tidak mengurus surat pindah. Informasi yang didapat, orangtua siswa tersebut menunggu pembangunan sekolah permanen dan jika sudah jadi akan memindahkan anaknya kembali. Ada juga beberapa siswa yang pindah ke Tangerang dan Boyolali. Sementara untuk perpindahan local, ada empat siswa yang bersekolah di SD Glagaharjo.

Prihyanto menyatakan, meski berada di sekolah darurat dan fasilitas belum sepenuhnya lengkap, siswa tetap mendapat proses belajar mengajar sesuai dengan kurikulum. Bahkan secara berkala ada pemeriksaan kesehatan karena kawasan sekolah tersebut sangat berdebu.

Untuk siswa yang tidak masuk sekolah tetap akan dihitung alpa kecuali jika disertai dengan surat izin resmi yang diketahui orangtua. Sebagai sekolah legal, SD Darurat Banjarsari menerapkan peraturan sesuai dengan ketentuan.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman. Arif Haryono mengatakan, pemerintah tidak pernah menelantarkan siswa yang belajar di sekolah legal. Bahkan untuk mengejar ketinggalan materi dan persiapan ujian, siswa kelas VI diberi penambahan jam pelajaran. “Tujuannya agar siswa tetap bisa berprestasi dan lulus dengan memuaskan,” ucapnya.

Ketidakjelasan status siswa, lanjut Arif, akan merugikan anak tersebut. Seharusnya jika ada perpindahan siswa harus diurus persyaratan administrasinya. Karena saat ini diterpakan Nomor Induk Siswa Nasional yang berlaku dari SD hingga SMA. Nomor tersebut mengikuti siswa dan berlaku seterusnya, termasuk dalam rapor. (*-7)-f

Sumber : SKH Kedaulatan Rakyat, Kamis, 13 Oktober 2011

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *