Siswa Kehilangan Ruang Kelas

Gedung SMA 17 Dirobohkan Saat Pelajaran Sedang Berlangsung

YOGYA , TRIBUN – Sejumlah siswa dan guru SMA 17 Yogyakarta bergotong-royong membersihkan puing-puing  bangunan sekolah mereka, Rabu (15/5) siang. Mereka tampak memilah sejumlah barang yang masih bisa diselamatkan, semisal meja, kursi dan sejumlah perangkat elektronik.

Kegiatan tersebut dilakukan menyusul pembongkaran paksa terhadap bangunan sekolah yang berlokasi di jalan Tentara Pelajar Yogyakarta tersebut. Pantauan Tribun di lokasi, sebagian besar gedung sekolah termasuk ruang kelas, ruang tata usaha hingga laboratorium relah rata dengan tanah. Padahal, gedung sekolah termasuk dalam bangunan cagar budaya.

Seorang siswa SMA 17, Fajar menuturkan, pembongkaran sekolah tersebut terjadi pada Senin (13/5), sekitar pukul 07.30 pagi. Saat itu, jam pelajaran pertama baru dimulai.

“Saya kaget karena tiba-tiba ada suara tembok yang dihancurkan di bagian selatan, lalu kami semua siswa keluar dan mengetahui kalau bangunan sekolah mulai dihancurkan,” ujarnya saat ditemui di sekolah setempat.

Fajar menambahkan, ia menyaksikan beberapa orang yang merobohkan tembok salah satu ruang kelas SMA 17 dengan menggunakan palu cukup besar. Tak lama kemudian, orang-orang tersebut memasuki ruang kelas dan mulai mengeluarkan meja dan kursi.

Ia dan siswa lainnya pun hanya bisa mengamati kejadian tersebut. Para siswa, termasuk dirinya, akhirnya membantu mengeluarkan benda-benda di dalam kelas dan memindahkannya ke halaman sekolah.

Sekadar mengingatkan, konflik di sekolah tersebut terjadi antara pihak yang mengaku sebagai ahli waris dan Yayasan 17 Pengembangan. Pihak keluarga yang mengaku sebagai ahli waris ini mengaku memiliki hak atas bangunan yang kini digunakan sebagai sekolah.

Konflik tersebut pada April 2012 meluas lantaran adanya pihak yang juga mengaku sebagai pihak yang berhak atas bangunan cagar budaya yang kini dimanfaatkan untuk sekolah tersebut. Pihak tersebut adalah Yayasan 14 di Jakarta yang melayangkan menggugat ke dua pihak yang bersengketa. Sidang perdana terkait gugatan itu digelar di Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta, 26 April 2012.

Terkait dengan pembongkaran paksa yang terjadi pada Senin pagi, Kepala SMA 17, Suyadi, mengaku sudah berusaha melakukan negoisasi lantaran jam pelajaran sekolah masih berlangsung.

“Saya sudah menghubungi pihak kepolisian untuk melakukan proses pengamanan dan mediasi, tapi mereka juga sudah bersikukuh untuk melakukan eksekusi saat itu, ya kami tidak bisa berbuat apa-apa,” tuturnya.

Ia menjelaskan, saat itu setidaknya ada 15 orang datang ke SMS 17, menghancurkan tembok sekolah dan menurunkan genteng serta atap beberapa ruang kelas. Ia pun menyayangkan proses eksekusi pembongkaran dilakukan saat siswa tengah belajar.

Suyadi juga berujar, pihaknya langsung memulangkan para siswa untuk belajar di rumah masing-masing. Kegiatan belajar mengajar pun diliburkan sembari menunggu kepastian pemindahan ruang belajar yang baru. (ton/ose)

Sumber: Tribun Jogja

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *