Renovasi Pasar Kolombo Disoal

Diduga Tanpa Lelang, Pedagang Ancam Demo

SLEMAN – Ketua Komisi C DPRD DIJ Sukamto minta agar pedagang Pasar Kolombo Jalan Kaliurang tak melakukan aksi demo menyoal rencana renovasi pasar yang menelan anggaran 7 miliar. Dia meminta para pedagang bersabar dan menempuh jalur musyawarah dulu.

“Nggak perlu lapor ke kejaksaan. Eman-eman waktunya kalau demo. Tuntutan kita kembalikan retribusi dan tinjau ulang tender,” ujar Sukamto usai menerima para pedagang pasar Kolombo di rumahnya Selasa (21/6) lalu.

Sekadar diketahui, puluhan pedagang Pasar Kolombo mengadu ke anggota dewan dari PKB ini terkait proses renovasi pasar yang tidak transparan dan ditengarai tanpa melalui proses lelang. Bahkan, para pedagang mengancam akan berdemo dan melaporkan hal ini ke kejaksaan negeri agar diproses hukum.

“Inilah yang dipertanyakan para pedagang. Kok Pemerintah Desa main tunjuk rekanan. Apakah lelang terbuka tak bisa dilakukan,” tanyanya menirukan keluhan para pedagang.

Sukamto mengungkapkan kepadanya, para pedagang juga mengeluhkan sudah merasa capek bermusyawarah dengan Pemerintah Desa Condongcatur. Sebab, jalur ini tak banyak direspons. “Hanya sekali saja minta pedagang tetap tenang dan tidak mengadukan kasus tersebut ke kajaksaan,” pintanya.

Mantan Ketua DPW PKB DIJ ini mengatakan dari komunikasinya dengan pedagang tak ada yang keberatan dengan renovasi. Hanya saja proses dari pelaksanaan renovasi itu yang dikritisi oleh pedagang. “Semuanya setuju dengan rencana ini. Tidak ada yang keberatan. Hanya, mereka meminta prosesnya agar lebih terbuka,” pintanya.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Kolombo (P3K) NY Ratijo mengungkapkan para pedagang merasa resah dengan adanya rencana renovasi tersebut. Sebab, Pemdes Condongcatur dinilai secara sepihak menentukan rekanan yang akan membangun pasar.

Ny Ratijo berharap kontrak pembangunan pasar diharapkan dilakukan secara transparan dan terbuka. Mereka minta penunjukan langsung rekanan dibatalkan karena tidak sesuai aturan. “Lakukan lelang secara fair,” desak Ny Ratijo.

Bukan hanya itu, Ny Ratijo menyatakan angsuran yang harus dibebankan pada pedagang juga dinilai memberatkan. Dia mencontohkan, Hartati, salah seorang pedagang telur, harus membayar kios seharga Rp 35 juta. Uang mukanya sebesar 20 persen dan angsuran perbulan Rp1,4 juta.

“Kita setuju renovasi tapi biaya kios jangan terlalu membebani pedagang,” keluhnya.

Ia memaparkan kasus ini sebenarnya telah dimediasi Lembaga Ombudsman Daerah (LOD). Bahkan, para pedagang juga perneah bertemu dengan Bupati Sleman Sri Purnomo pada (14/4) lalu untuk mengadukan hal ini. “Bupati memerintahkan agar pedagang lama diprioritaskan tanpa syarat,” kutipnya.

Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kabupaten Sleman Ngaliman menginformasikan P3K akan bertemu dengan ketua APPSI DIJ GKR Pembayun pada 13 Juli mendatang. Karena merupakan pasar strategis, ia minta semua pedagang Pasar Kolombo bersatu padu. “Pedagang harus golog gilig dan kompak,” pintanya. (kus)

Pedagang Pasar Kolombo Menggugat

Pasar Kolombo di Jl Kaliurang Sleman dijadwalkan segera direnovasi. Bangunan dan fasilitas di pasar tersebut menjadi lebih baik. Namun, sebagian pedagang pasar “menggugat”

  • Biaya renovasi pasar diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp 7 miliar.
  • Pedagang berencana menggelar aksi demonstrasi karena kurang sreg.
  • Proyek renovasi pasar dinilai tidak transparan dan diduga tidak melalui proses lelang.
  • Rekanan yang mengerjakan renovasi diduga ditentukan oleh Pemdes Condongcatur.
  • Salah seorang pedagang dibebani membayar kios Rp 35 juta dengan uang mukanya sebesar 20 persen dan angsuran Rp 1,4 juta tiap bulan

Sumber : Radar Jogja Kamis, 23 Juni 2011 Halaman 14 Kolom 4

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *