Ratusan Siswa SD di Lerang Merapi Terlantar

SLEMAN – Sekitar 100 siswa Sekolah Dasar Srunen, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, terlantar. Pasalnya sejak masuk sekolah pada kamis lalu, tidak satupun guru yang datang. Bangunan sekolah itu masih baru dan merupakan sumbangan dari pembaca satu media cetak di Jawa Tengah. Sekolah itu berada sekitar 100 meter dari makam Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi, yang menjadi korban erupsi 2010.

Lokasi sekolah itu merupakan wilayah yang seharusnya dikosongkan dari hunian tetap. Namun semua warga menolak direolkasi. “Kalau memang ini daerah yang tidak boleh ada hunian tetap, jangan sampai anak-anak ini jadi korban,” kata Suroto, Kepala Desa Srunen, saat ditemui disekolah dasar tersebut kemarin.

Ada tujuh ruangan di dua gedung sekolah itu. Ada bangunan untuk kepala sekolah, kamar mandi, dan tempat wudu. Namun belum ada meja dan kursi untuk belajar. Siswa tetap datang setiap hari pada pukul 07.00. mereka justru belajar dengan orang tua yang mengantar mereka. Pada pukul 09.00, mereka pulang. “Kalau pemerintah tidak menerjunkan guru kesini, kami akan memanggil guru privat,” kata Suroto.

Memang, kata dia, bangunan sekolah yang lama rusak akibat erupsi merapi. Pemerintah menyediakan sekolah bagi siswa di Banjarsari, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. Jarak dari Srunen sekitar 9 kilometer. Tapi pengungsi telah kembali ke dusun yang terkena awan panas itu, sehingga siswa kembali ke sekolah lama yang telah dibangun.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Sleman Koeswanto mengatakan, seharusnya sambil berjalan dipikirkan bagaimana anak-anak itu bisa belajar. Meski berada di kawasan rawan bencana, jangan sampai siswa menjadi korban kebijakan pemerintah. “Harus dipikirkan juga nasib anak-anak ini,” kata dia. Muh Syaifullah

Sumber : Koran Tempo Rabu, 14 September 2011

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *