Proyek Underpass Kulur Dikaji Ulang

TEMON – Proyek Underpass Kulur yang berlokasi di Dusun Polodadi, Desa Kulur, Kecamatan Temon dikaji ulang. Langkah ini menjadi tindak lanjut dari keberadaan underpass yang sampai saat ini belum bisa dimanfaatkan sesuai fungsinya serta mencari solusi dari keluhan warga.

Sebelumnya dilaporkan Underpass Kulur masih tergenang air sehingga belum bisa digunakan. Tidak hanya itu, warga juga menuding mesin diesel yang digunakan untuk memompa air dari underpass sebagai penyebab sumur penduduk kering.

Kabid Bina Marga Dinas pekerjaan Umum (PU) Gusdi Hartono mengaku kaji ulang yang dilakukan kali ini lebih komprehensif, yakni memandang underpass sebagai bagian dari kawasan yang tidak bisa dilepaskan dari bagian sekitarnya, seperti areal pertanian dan pemukiman penduduk.

“Kalau sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo hanya melakukan satu kajian saja dan belum memasukkan pertimbangan wilayah di sekitar, salah satu dampaknya penggunaan pompa yang seharusnya untuk menyedot air supaya tidak menggenangi underpass justru dituduh berdampak pada penurunan air tanah yang membuat sumur penduduk kering,” ujarnya saat ditemui di Kantor Dinas PU Kulonprogo, Rabu (10/9).

Kajian kawasan yang komprehensif akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan hasil kajian akan menentukan solusi yang diterapkan untuk persoalan di areal tersebut.

Ia memaparkan, Detailed Engineering Design (DED) akan dibuat berdasarkan solusi yang ditetapkan lalu dilakukan pembagian berdasarkan wilayah kerja.

Gusdi menjelaskan pembagian wilayah kerja diperlukan mengingat kawasan Underpass Kulur tidak hanya milik Pemkab Kulonprogo, sebab jalan yang digunakan untuk underpass milik Pemerintah DIY dan saluran irigasi berada di sekitar di bawah naungan Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO).

Ia mengungkapkan, persoalan yang dihadapi dalam pembangunan Underpass Kulur komplek sehingga Pemkab Kulonprogo tidak bisa bekerja sendiri. Targetnya, kajian kawasan selesai pada 2015 dan undepass Kulur bisa berfungsi paling lambat 2017.

Kabag Pembangunan Desa Kulur Supardi menuturkan saat musim kemarau, underpass bisa digunakan, namun menjadi penuh genangan air saat musim hujan. “Jadi underpass sekarang ditutup untuk sementara waktu karena kendala teknis, mesin diesel yang diterapkan juga belum bisa berfungsi maksimal karena belum ada saluran pembuangan air,” jabarnya.

Kendati demikian, kata dia, warga berharap underpass bisa segera beroperasi karena rel lintasan ganda membuat lalu lintas di wilayah tersebut padat dan membuat pengguna jalan kurang nyaman. (switzy sabandar).

Sumber: Harian Jogja, Kamis 11 September 2014 Halaman 7

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *