Proyek Properti Majestic Land Berhenti

Oleh: HARIS FIRDAUS

5 Februari 2016 16:16 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS — Sejumlah proyek properti milik Majestic Land, perusahaan properti yang diduga melakukan penipuan terhadap puluhan pembeli di Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berhenti. Di lokasi-lokasi proyek tersebut tidak tampak aktivitas apa pun.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS

Sejumlah warga memasang poster di kantor pengembang properti Majestic Land di Wisma Hartono, Kota Yogyakarta, Kamis (4/2). Puluhan warga merasa ditipu oleh pengembang Majestic Land karena mereka sudah mengeluarkan uang hingga ratusan juta rupiah, tetapi proyek properti yang dijanjikan belum juga dibangun.

Salah satu lokasi proyek properti milik Majestic Land yang terlihat sepi adalah Apartemen Majestic Grandbale Timoho. Berdasarkan pantauan Kompas, Jumat (5/2) pagi, lokasi proyek apartemen itu berada di Kampung Balirejo, Kelurahan Timoho, Kota Yogyakarta.

Lahan tempat apartemen itu akan dibangun memang sudah dipagari, tetapi belum terlihat tanda-tanda pembangunan akan dimulai. Kepala Dinas Perizinan Kota Yogyakarta Heri Karyawan menyatakan, apartemen tersebut belum mengantongi izin apa pun dari pemerintah kota.

“Sampai sekarang, kami memang belum mengeluarkan izin pembangunan apartemen karena belum ada peraturan daerah tentang hal itu,” ujarnya.

Lokasi proyek milik Majestic Land lainnya yang terlihat sepi adalah kondotel Best Western Majestic di Jalan Adi Sucipto, Kabupaten Sleman, DIY. Di lokasi tersebut, pembangunan sudah setengah jalan dan bangunan fisik sudah setengah jadi. Namun, lokasi proyek itu kini sepi dan tidak ada aktivitas pembangunan lagi.

Seperti diberitakan, puluhan pembeli produk properti dari perusahaan Majestic Land di DIY merasa tertipu. Mereka sudah menyetor uang hingga ratusan juta rupiah, tetapi pembangunan properti yang dijanjikan ternyata berhenti di tengah jalan. Kantor Majestic Land juga tutup dan pimpinan perusahaan tersebut tidak bisa ditemui.

Pada Kamis pagi, belasan pembeli produk properti dari Majestic Land mendatangi kantor perusahaan itu di lantai 5 Wisma Hartono, Kota Yogyakarta. Namun, mereka tak bisa menemui siapa pun karena kantor Majestic Land sudah kosong sejak November 2015.

Warga yang emosi akhirnya memasang poster protes berisi permintaan agar Majestic Land bertanggung jawab terhadap uang yang disetor konsumen.

Sesudah itu, para pembeli produk properti Majestic Land itu mengadu ke Lembaga Ombudsman DIY. Mereka berharap Lembaga Ombudsman DIY bisa membantu penyelesaian kasus tersebut.

Wakil Ketua Lembaga Ombudsman DIY Mohammad Saleh Tjan mengatakan, pihaknya mendorong para korban melapor ke Kepolisian Daerah DIY karena kasus tersebut diduga merupakan tindak pidana penipuan sehingga harus diselesaikan melalui jalur hukum. Selain itu, Lembaga Ombudsman DIY akan mendorong Polda DIY agar segera menuntaskan penyidikan kasus tersebut.

Lembaga Ombudsman DIY juga akan meminta keterangan dari beberapa pihak terkait, termasuk pemerintah daerah, tentang proses perizinan proyek-proyek properti milik Majestic Land. “Apakah proyek-proyek Majestic Land ini sudah memiliki perizinan yang sesuai dengan ketentuan atau tidak. Kalau tidak, kami akan mendorong pemerintah daerah untuk menertibkan proyek-proyek tersebut,” kata Saleh.

Memiliki Lima Proyek

Berdasarkan data yang dihimpun Kompas, Majestic Land memiliki sedikitnya lima proyek properti DIY. Kelima proyek tersebut apartemen dan kondotel di Kabupaten Sleman. Kemudian proyek perumahan serta kompleks vila wisata di Kabupaten Bantul. Juga ada proyek apartemen di Kota Yogyakarta. Untuk apartemen dan kondotel, setiap proyek bisa terdiri dari ratusan unit dan sebagian telah terjual.

Untuk sementara jumlah korban yang sudah terdata dan aktif berkomunikasi sekitar 50 orang meski jumlahnya kemungkinan bisa lebih dari itu. Kerugian para pembeli pun diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Salah seorang konsumen produk properti Majestic Land, Dwi Ariyanto (40), mengatakan, para pembeli berharap Majestic Land mau bertanggung jawab dengan memberi penjelasan kepada para pembeli. “Kalaupun memang proyeknya berhenti, seharusnya pihak manajemen memberi pernyataan resmi kepada konsumen. Tapi sekarang, kan, manajemen perusahaan tidak bisa dihubungi, kantor tutup, dan semua proyek properti berhenti. Lalu, uang kami ke mana?” katanya.

Dwi mengatakan, pada 2014 dirinya membeli dua unit Apartemen M-Icon di Kabupaten Sleman, DIY, yang merupakan salah satu proyek Majestic Land. Masing-masing unit apartemen yang dibeli Dwi itu berharga Rp 260.568.000. Secara bertahap sejak akhir 2014 hingga awal tahun 2015, Dwi mengaku telah melunasi pembayaran sebesar Rp 521.136.000.

“Waktu itu, manajemen Majestic Land menjanjikan bahwa Apartemen M-Icon akan mulai dibangun pada Juni 2015. Tapi, kenyataannya sampai sekarang pembangunan tidak dimulai. Makanya kami mulai khawatir bahwa ini merupakan penipuan,” ujar Dwi, warga Kota Yogyakarta.

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *