Perkembangan Hotel – Proyek Diduga Langgar Amdal

JOGJA- Pertumbuhan hotel di wilayah Kota Jogja dinilai sudah berlebihan. Kebutuhan kamar sudah melebihi atau tidak sesuai dengan permintaan (oversupply).

Andrean Tri Pamungkas & Uli Febriarni

Tak terkendalinya jumlah hotel tersebut ditengarai banyak yang melanggar analisa dampak lingkungan (Amdal).

“Kalau UKL (upaya pengelolaan lingkungan hidup) – UPL (upaya pemantauan lingkungan hidup) dan Amdal diketatkan, pertumbuhan hotel tak sebanyak sekarang,” ujar Ketua Tim Peneliti Dampak Kajian Perhotelan, Ike Janita Dewi kepada harian Jogja, Rabu (17/9).

Penelitian Ike merupakan hasil kerja sama dengan Badan Kerja Sama dan Penanaman Modal DIY. ia mencontohkan, ketidaksesuaian Amdal itu misalnya soal ketersediaan lahan parkir hotel. Karena terbatasnya ruang, sehingga berdampak pada kemacetan karena tamu parkir di pinggir jalan.

Selain itu, berkaitan dengan rekomendasi pengeboran sumur dalam. Pengeboran itu, menurutnya, hampir dipastikan akan berpengaruh pada sumur dangkal rumah tangga. “Satu kamar itu membutuhkan 38 liter air, sedangkan rumah tangga maksimal hanya 300 liter air,” ungkapnya.

Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Jogja itu menambahkan pembangunan hotel sebenarnya memang menguntungkan secara ekonomi, karena dari penelitiannya merambahnya hotel menambah produk domestik regional bruto (PDRB) sebesar Rp 1,7 triliun.

Angka itu didapat karena hotel dapat mendatangkan wisatawan yang juga membeli produk-produk kerajinan, selain itu hotel juga membelanjakan mebel serta jasa laundry diuntungkan.

Akan tetapi kalau syarat perizinan hotel tidak ditegakkan dampaknya pada lingkungan. “Moratorium pendirian hotel bukan solusinya, karena yang penting perketat rekomendasi UKL-UPL atau pun Amdal,” terangnya.

Toh kebutuhan kamar menurutnya sudah melebihi atau tidak sesuai dengan permintaan (oversupply), sehingga kalau dibiarkan yang terjadi adalah perang harga.

Menurutnya, keseimbangan antara permintaan dan penawaran jumlah kamar itu baru terjadi pada 2019. Itu pun, katanya, perhitungan bisa meleset ketika jumlah pengajuan hotel sebelum moratorium banyak disetujui.

Ia mengaku hanya meneliti dari data pertumbuhan hotel yang telah mendapat IMB. Sementara dari kesepakatan PHRI dan ASITA pertumbuhan hotel setiap tahunnya hanya dipatok 5%.

Ike memberikan rekomendasi untuk menyetop investasi hotel, tapi membuka peluang investor yang berkaitan dengan hotel misalnya jasa satpam dan laundry.

Kalau pun Pemda DIY masih membuka keran bisnis perhotelan, mestinya dibangun di luar ring satu (di pinggir ring road). Insentif diberikan pada pembangunan hotel di wilayah-wilayah wisata di daerah dengan membangun infrastruktur.

Kepala Badan Kerjasama dan Penanaman Modal (BKPM) DIY Dominicus Pratikto mengatakan penelitian itu masih berjalan, sehingga Pemda DIY masih menunggu hasil finalnya. “Penelitian itu kami lakukan karena untuk menjaring aspirasi,” ujarnya.

Sumber Air

Agus Maryono pengajar Magister Teknik Sistem Bidang Sungai Sumber Daya Air dan Lingkungan, Fakultas Teknis Universitas Gadjah Mada mengungkapkan, ke depannya, perlu ada upaya dari pengelola perumahan dan perhotelan untuk tidak hanya berpikir sumber air, melainkan juga teknik mendapatkan air.

“Artinya, sudah tidak lagi berpikir air berasal dari tanah atau dari PDAM. Melainkan bagaimana setiap pemilik bangunan bisa memperoleh air. Bisa mengolah air hujan atau cara lain yang bisa mengurangi beban air tanah permukaan dan dalam,” ucap Agus.

Sementara, Edi Indrajaya, Kepala Bidang Energi Sumberdaya Mineral Dinas Pekerjaan Umum DIY mengungkapkan, hotel yang saat ini telah memegang izin pengusahaan air tanah, kemungkinan bisa dievaluasi dan dikurangi kapasitas penggunaannya. Hal tersebut didasarkan pada kemampuan akuifer dalam menyediakan air tanah.

“Kami lihat, apakah masih sesuai dengan izin yang diberikan. Kalau izin yang diberikan satu liter per detik, namun kondisi air tanah tak lagi memungkinkan, maka akan dikurangi debit penggunaannya,” jelas Edi, di ruang kerjanya.

Sumber: Harian Jogja, Kamis 18 September 2014 Halaman 3

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *