Penataan Kios Stasiun – Pedagang Boleh Jualan di Trotoar

Kulonprogo – Pemkab Kulonprogo mengizinkan pemilik kios Stasiun Wates menempati areal trotoar yang berada di selatan Stasiun Wates untuk berjualan sembari menunggu pembangunan kios permanen dari PT Kereta Api Indonesia selesai.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kulonprogo, Sri Hermintarti, menuturkan Pemkab sudah memberitahu kebijakan tersebut kepada para pedagang yang kiosnya hari ini dibongkar. Lokasi yang berada di sebelah Utara SDN 4 Wates atau di sisi selatan stasiun dapat digunakan pedagang untuk membuka lapak dan berjualan di sana.

“Jadi, pedagang tetap memperoleh penghasilan selama pembangunan kios permanen dari PT KAI berlangsung dan tidak menganggur,” jelasnya kepada wartawan, Kamis (20/2).

Terkait dengan pembangunan lapak atau kios sementara, kata dia, diserahkan kepada masing-masing pedagang dengan syarat tidak merusak lingkungan. Seperti yang diketahui, pada malam hari lokasi tersebut juga digunakan pedagang kaki lima berjualan makanan, sehingga pemkab menyerahkan kebijakan pembagian waktu dan areal kepada pedagang kios.

“Yang terpenting tidak saling merugikan,” tukasnya.

Didik Purwanto, 51, salah satu pedagang kios Stasiun Wates, mengatakan, sudah mendapat izin tempat relokasi sementara dari Pemkab Kulonprogo. Akan tetapi, pedagang akan mengajukan permohonan baru karena tempat yang disediakan pemkab rawan konflik dengan PKL yang sudah menempati lokasi tersebut sebelumnya.

“Kami minta sisi utara yang menghadap selatan bisa digunakan untuk tempat berjualan, nyaman dan tidak bersinggungan dengan pedagang lain,” ungkapnya. Pedagang berharap permohonan yang baru saja diajukan dapat disetujui pemkab.

Soal pembangunan kios secara swadaya, Didik mengaku pedagang kios menyetujui keputusan tersebut dan tidak mempermasalahkannya. “Semua sudah ada solusinya,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kios yang menempati areal Stasiun Wates mulai dibongkar, Rabu (19/2). Pedagang kios dijanjikan PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan menempati kios permanen yang berlokasi di timur stasiun dalam kurun waktu dua bulan.

Pedagang sempat merasa bingung dengan nasib mereka selama dua bulan karena tidak dapat berjualan dan meminta pemkab untuk mengupayakan lahan relokasi sementara. Switzy Sabandar (switzy@harianjogja.com)

Sumber: Harian Jogja, Jumat 21 Februari 2014 Halaman 8

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *