Pemkot Tak Lepas Tangan

Disdik  Siapkan Solusi Tempat Belajar Siswa SMA 17

Wewenang Masih Ada Di Yayasan

YOGYA, TRIBUN – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Yogya mengaku prihatin atas aksi pembongkaran gedung SMA 17 Yogya. Meski demikian, Disdik Kota belum ingin masuk terlalu dalam terkait urusan pemindahan tempat belajar para siswa sekolah tersebut.

Demikian dikatakan Kepala Disdik Kota Jogja, Edi Hery Suasana, Selasa (16/5). Ia berujar, untuk saat ini pihaknya tidak ingin melangkahi Yayasan 17 yang merupakan pengelola sekolah yang berlokasi di Jalan Tentara Pelajar itu.

“Karena wewenang pengelolaan sekolah tersebut langsung dibawah Yayasan, bukan Disdik, tentu kami tak mau melangkahinya,” terangnya kepada Tribun Jogja.

Edi juga yakin yayasan pengelola sekolah memiliki cukup banyak relasi guna mencari lokasi alternatif pemindahan tempat belajar siswa. Ia pun menyerahkan sepenuhnya hal itu pada pihak yayasan.

Namun hal tersebut, tambah Edi, bukan berarti pihaknya lepas tangan terkait apa yang tengah terjadi di SMA 17. Menurutnya, sejauh ini pihaknya tetap terus memantau perkembangan SMA 17, termasuk saat pembongkaran sekolah terjadi, Senin (13/5) lalu.

“Sampai saat ini pun kami tetap kirim tim pemantau ke sana, namun untuk tahap sekarang, kami sebatas memantau proses pendidikan dan pembelajaran di sana,” imbuh dia.

Disdik Kota Yogya pun mengaku siap untuk ikut menyelesaikan persoalan tempat belajar siswa. Namun menurut Edi, hal itu baru bisa dilakukan apabila yayasan menyerahkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) dan diteruskan ke Disdik.

Edi memaparkan, langkah bantuan tersebut tetap harus dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku. Setelah Yayasan SMA 17 menyerahkan permintaan tertulis melalui Pemkot, Disdik Kota Yogya akan siap mencarikan solusi tempat baru.

“Termasuk kemungkinan untuk menggabungkannya dengan sekolah lain, itu bisa saja, nanti kami akan bahas lagi dengan pihak yayasan,” katanya.

Secara pribadi, Edi menyatakan dirinya mencemaskan psikologis siswa SMA 17. Menurutnya, peristiwa tersebut bisa berdampak pada kelangsungan dan semangat belajar siswa.

“Tentu yang paling terganggu adalah siswa, secara psikologis pastinya tetap ada dampaknya mengingat mereka kini tidak ada tempat untuk belajar,” tandasnya.

Sementara Kepala SMA 17, Suyadi, mengaku dirinya juga menyerahkan perkara sengketa dan langkah selanjutnya kepada yayasan sekolah. Ia mengaku tidak memiliki kuasa apapun, selain belajar mengajar di sekolah itu.

“Saya sudah berusaha mempertahankan kelangsungan KBM tetap berjalan di sekolah ini sejak tahun lalu, tapi kalau sudah seperti ini ya semua terserah yayasan nanti mau bagaimana,” ujarnya. (ton)

Sumber: Tribun Jogja, Jumat 17 Mei 2013 Halaman 9 & 12

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *