Pemilik Tak Tahu BWB saat Beli

Jun 29, 2015

JOGJA – Pembongkaran bangunan warisan budaya (BWB) di Jalan Pajeksan No 16, Sosromenduran, Gedongtengen, Kota Jogja, seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi Pemkot Jogja. Ini jika Pemkot tak ingin 463 BWB dan bangunan cagar budaya (BCB) lain bermasalah sama.

Sebab, di BWB yang berada di kawasan Malioboro tersebut ternyata tak banyak diketahui masyarakat. Selain itu, BWB yang dahulu merupakan pertokoan itu juga tak terawat. Sebelum mengalami pembongkaran.

“Saya beli sebelum 2013 itu kondisinya sudah mengenaskan. Bagian depan sudah hampir ambruk,” tandas pemilik BWB di Jalan Pajeksan No 16 Sosromenduran Eko Bimantoro kemarin (28/6).

Ia mengungkapkan, pemilik bangunan itu saat dirinya belum membeli juga tak pernah mengatakan kalau berstatus BWB. Alhasil, karena bangunan itu sudah tidak layak, ia pun membongkar. ”Yang saya heran, berstatus BWB kok tidak pernah dikaruhke,” ujarnya.

Seharusnya, lanjut Eko, sejak penetapan BWB ada proses untuk merawat BWB tersebut. Bukan hanya asal menetapkan lantas tak pernah ada sosialisasi lagi. “Kenapa baru sekarang (polemik pembongkaran). Saya kan juga sudah memenuhi prosedurnya,” jelasnya.

Prosedur itu mengenai perizinan pembongkaran. Eko memastikan, telah mengantongi izin pembongkaran dari Wali Kota Haryadi Suyuti. “BWB-nya masih tetap saya pertahankan. Sesuai rekomendasi dari Tim Pertimbangan Pelestarisan Warisan Budaya (TP2WB),” akunya.

Seperti diberitakan, pembongkaran BWB di Jalan Pajeksan No 16 menjadi polemik. Bahkan kini Lembaga Ombudsman DIJ mencermati masalah tersebut. Mereka pun telah melayangkan surat ke Wali Kota Haryadi Suyuti untuk menghentikan pembangunan BWB tersebut.

Meski, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Jogja telah mengeluarkan rekomendasi untuk pengembalian Rumah Tjan Blom Thiong itu. Ini sesuai Peraturan Gubernur (Pergub) No 62 Tahun 2013 tentang Pelestarian Cagar Budaya.

Kepala Disparbud Kota Joga Eko Suryo Maharso memastikan, demi melestarikan BWB tersebut tetap, pihaknya sudah memerintahkan pembangunan kembali BWB bernomor 789/Kep/2009 itu. “Kami tunggu niat baiknya. Kami sudah rekomendasikan untuk pengembalian bangunan sesuai aslinya,” tandasnya.

Eko menegaskan, rekomendasi ini juga menyertakan detail bentuk dan spesifikasi BWB dengan gaya Chinese tersebut. Itulah yang harus menjadi acuan dari pemilik BWB untuk mengembalikan bangunan yang berukuran enam meter kali tujuh meter tersebut. ”Haru sama dengan aslinya. Itu rekomendasi kami,” ujar Eko.

Ini juga sama dengan Dinas Perizinan (Dinzin) Kota Jogja. Mereka hanya sebatas memberikan rekomendasi kepada pemohon IMBB untuk mengembalikan ke bangunan asli. ”Selama itu (bangunan asli tidak dikembalikan) bisa saja dicabut,” tambah Kabid Pelayanan Setiyono. (eri/laz/ong)

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *