Pemilik Kios Piala di Jalan Mas Suharto Terancam Digusur

Supardi Was-was Setiap Ada Orang Asing Melintas

Supardi, pemilik kios piala di Jalan Mas Suharto mengaku resah dan tak bisa tidur sejak beberapa hari terakhir. Ia merasa paranoid setiap kali melihat petugas atau orang asing yang melintas. Ia juga merasa selalu diawasi.

Perasaan Supardi ini tidaklah berlebihan. Sebab sejak dua pekan terakhir tersiar kabar bahwa penghuni kios souvenir piala di Jl Mas Suharto, Suryatmajan, Danurejan, Yogyakarta akan digusur. Lokasi tempat mereka berjualan akan dibangun hotel oleh orang dari Jakarta yang mengaku sebagai pemilik tanah tersebut.

Ketua paguyuban PKL yang tergabung dalam Koperasi Kelompok Kios Mandiri (K3M), Waluyo ditemui di lokasi menyampaikan, sejak 4 Desember lalu beberapa diantara pedagang dipanggil Satreskrim Polresta Yogyakarta. Mereka dimintai keterangan dan diminta pindah atas dasar laporan orang yang mengaku sebagai pemilik tanah.

Dijelaskan, berdasarkan laporan polisi LP/B/xii/2012/diy/polresta, pemilik tanah itu atas nama Thomas Ken Darmastono yang tinggal di Jakarta. Menurut Waluyo, penghuni kios diminta meninggalkan lokasi itu karena akan dibangun hotel.

Informasi tersebut tentu membuat resah sekaligus kaget. Pasalnya, setahu mereka lokasi kios itu tanah milik Negara. “Kami menempati sejak 1968, atas izin kecamatan secara lisan,” katanya, Jumat (11/1).

Waluyo dan beberapa penghuni kios memang mengaku tidak memegang surat apapun. Namun, bahwa tanah itu milik Negara menurut Waluyo juga diakui BPN. Hanya, sejauh ini pemerintah menurutnya tidak pernah menjelaskan dan membantu mereka setelah munculnya kabar penggusuran itu.

Berdasarkan hasil pertemuannya dengan BPN pada Desember lalu, menurutnya, telah terjadi pembebasan lahan pada 1957. Tanah itu berarti milik Negara. Maka, atas keresahan itu, para pedagang beberapa kali meminta penjelasan pemerintah. Waluyo bahkan mengaku melayangkan surat ke DPRD agar mendapatkan penjelasan. Hanya, sampai sekarang menurutnya tidak ada tanggapan.

Pemilik kios, Agung, mengaku juga terkejut Karen dipanggil polisi atas laporan penyerobotan tanah. Pasalnya, selama ini dia merasa menempati tanah Negara dan membayar pajak tanah Rp. 6.000 per tahun. “Saya menempati tanah milik Negara. Ini bukan milik perseorangan,” katanya.

Selain para pedagang, menurutnya, di lokasi yang juga harus digusur adalah sebagian wilayah Gemblakan bawah Suryatmajan Danurejan, yaitu di bawah kios itu. (yoseph harry w)

Sumber: Tribun Jogja Sabtu, 12 Januari 2013

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *