Pembongkaran Harus Dihentikan

SETELAH pembongkaran bangunan SMA “17” 1 Yogyakarta yang dilakukan orang tidak dikenal, Dinas Kebudayaan DIY fokus lakukan penyelamatan gedung sekolah ini. Sebab, sesuai SK Gubernur DIY Nomor 210/Kep/2010, bangunan tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya.

Kepala Bidang Sejarah Purbakala dan Museum Dinas Kebudayaan DIY, Nursatwika menyatakan, sudah melakukan inventarisasi kerusakan akibat pembongkaran gedung ini. Diketahui, kerusakan yang terjadi mencapai 30 persen. Namun tidak sampai merubah fasad asli bangunan.

Terlepas dari sengketa perebutan lahan SMA “17”1, pihaknya bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan Badan Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta telah berkoordinasi dengan pihak sekolah. “Prinsipnya kami minta siapapun pelakunya untuk menghentikan pembongkaran bangunan,” tandas Nursatwika, Kamis (16/7).

Pada koordinasi yang dihadiri para pihak bersengketa, Rabu (15/5), disepakati bahwa tidak akan lagi dilakukan pembongkaran. Jika kemudian hari diketahui adanya pembongkaran, Dinas Kebudayaan DIY akan menempuh jalur hukum untuk mengatasi persoalan.

Diuraikan Nursatwika, pihaknya telah memiliki seluruh data dan gambar bagian mana yang dibongkar, ketika ada bagian bangunan yang kembali rusak, maka akan dengan mudah diketahui untuk ditindaklanjuti. Sebab itu, Dinas Kebudayaan mulai menerjunkan tim untuk memantau fisik bangunan SMA “17”1. Nantinya petugas akan melakukan monitoring yang dilakukan dalam batas waktu tertentu. “Memperkarakan bukan dalam konteks sengketanya. Tapi sebagai tindak lanjut SK Gubernur tentang Bangunan Cagar Budaya,” tandas Nursatwika.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Yogyakarta, Budi Santoso menyatakan pihaknya siap membantu dalam pengawasan tersebut. Sebagai bentuk koordinasi dalam hal penyelamatan berbagai cagar budaya, termasuk arsitektur maupun bangunan.

SMA “17”1 yang berada di jalan Tentara Pelajar 24 Bumijo Yogyakarta ini memiliki sejarah panjang pada masa awal berdirinya republik. Pada jaman perjuangan kemerdekaan, bangunana ini merupakan markas Tentara Pelajar Brigade 17. Tapi jauh sebelumnya, lanjut Budi, gedung ini milik Yayasan Boedi Oetomo yang konsen dalam pengembangan pendidikan. (hdy)

Sumber: Tribun Jogja, Jumat 17 Mei 2013 Halaman 9 & 12

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *