Pembelajaran Siswa SMA 17 Dipindah

Cagar Budaya Dihancurkan, Pemerintah Kecolongan

PENGHANCURAN Bangunan Cagar Budaya (BCB) di kompleks SMA 17 dan SMP 17 ‘2’ Bumijo selain mencoreng citra pendidikan juga bentuk pelecehan terhadap warisan budaya di Kota Yogyakarta. Pemerintah pun dinilai kecolongan terhadap tindakan perusakan tersebut.

Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ahmad Charis Zubair mengaku sangat prihatin. Apalagi, bangunan SMA 17 dan SMP 17 ‘2’ Yogyakarta tersebut memiliki nilai sejarah sangat tinggi. “Sudah terlanjur dirobohkan. Ini tragedi yang sangat disayangkan,” akunya, Kamis (16/5).

Menurutnya, setiap BC harus mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Apalagi Kota Yogyakarta sudah memiliki Tim Pertimbangan Pelestarian Warisan Budaya (TP2WB). Sehingga, setiap bentuk perubahan atau pembangunan di atas BCB maupun benda atau bangunan yang masih diduga sebagai cagar budaya harus mendapat rekomendasi dari TP2WB. “Kepentingan ekonomi maupun pragmatis itu sering mengalahkan kepentingan sejarah. Ini yang memprihatinkan ,” tandasnya.

Kepala Bidang Sejarah Purbakala dan Museum Dinas Kebudayaan DIY, Nursatwika menjelaskan, setelah ada perusakan BCB tersebut pihaknya langsung menggelar koordinasi dengan berbagai pihak. Baik pemerintah, kepolisian, yayasan maupun pihak ahli waris yang berselisih.

Dalam pertemuan yang digelar Rabu (15/5) disepakati, pihak yang bersengketa mengenai aset yang berada di atas sekolah SMA 17 dan SMP17’2’ Yogyakarta, harus menunggu putusan hukum. Jika kembali terjadi perusakan, akan berhadapan dengan aparat kepolisian.

Untuk pembelajaran siswa, sementara waktu akan dipindah ke sekolah yang menjadi milik yayasan, yaitu SMP 17’1’ yang berada di  Gowongan Lor. Kegiatan belajar mengajar di lokasi baru itu akan dimulai pada Senin (20/5) mendatang. “Lokasi yang ada saat ini sudah tidak memungkinkan untuk kegiatan belajar mengajar siswa kami,” ujar Kepala Sekolah SMA 17”1” Yogyakarta, Suyadi.

Sedang Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Edi Hari Suasana mengaku siap memberi bantuan pelayanan pendidikan jika diminta oleh pihak yayasan. Menurut Edi, saat ini yayasan sudah mampu mengatasi secara mandiri.

Terpisah Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Drs K Baskara Aji mengungkapkan meski pengelolaan SMA 17 kewenangannya lebih banyak di yayasan, sebaiknya sekolah segera mencari tempat pembelajaran baru. Hal ini perlu segara dilakukan, karena tempat belajar yang selama ini mereka tempati sudah tidak bisa dipergunakan lagi.

Wakasat Reskrim Polresta Yogya AKP Ilyas mengatakan, beberapa hari lalu pihak sekolah melapor ke Polresta Yogya terkait perusakan fasilitas sekolah. Sedang terkait perusakan benda cagar budaya tidak dilaporkan ke Polresta Yogya. “Karena ini kaitannya benda cagar budaya, yang menangani bukan kami, tapi dari pihak yang berwenang menangani benda cagar budaya,” ujarnya. (R-9/Ria/Sni)-d

Sumber: SKH Kedaulatan Rakyat, Jumat 17 Mei 2013 Halaman 1 & 7

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *