PEDAGANG PASAR – Terancam, Ombudsman Teliti Pasar

DANUREJAN – Lembaga Ombudsman DIY melakukan penelitian ke sejumlah pasar besar yang ada di DIY.

Lima pasar tradisional yang menjadi sampel penelitian adalah Pasar Kranggan, Jogja; Pasar Sentolo, Kulonprogo; Pasar Sambilegi, Sleman; Pasar Potorono, Bantul; dan Pasar Argosari, Gunungkidul.

Sejumlah persoalan diperoleh dari penelitian. Hasil penelitian itu masih dalam pembahasan Lembaga Ombudsman DIY. Rencananya, Lembaga Ombudsman akan menggelar fokus diskusi bersama sejumlah pedagang pasar tradisional, APSI, Paguyuban pasar moderen, dan pemerintah.

Ada empat hal yang menjadi fokus pembahasan, yakni soal regulasi pengelolaan pasar, tata kelola pasar, jaringan retribusi pedagang dan teknologi tepat guna. “Ending-nya nanti bisa menghasilkan rekomendasi bagi pemerintah bagaimana melindungi pasar tradisional,” ujar Wening, Senin (22/8).

Wening menambahkan alasan penelitian pasar tradisional karena banyak pengaduan dari para pedagang yang merasa terancam dan posisinya semakin terdesak dengan keberadaan pasar moderen. Padahal pasar tradisional merupakan tulang punggung ekonomi rakyat. Jika pasar tradisional tidak berjalan dengan baik, banyak pedagang yang terancam menganggur. “Sekarang saja ada beberapa pedagang yang beralih kerja karena merasa jualan di pasar tradisional semakin sepi,” ucapnya.

Perempuan yang juga aktif sebagai dosen di perguruan tinggi swasta ini menyebut banyak pasar tradisional yang sudah sepi sebelum waktunya tutup.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Pertanian dan Peternakan (Disperindagkoptan) Kota Jogja, Lucy Irawati saat dihubungi mengakui di Kota Jogja belum ada ketegasan yang mengatur soal larangan komoditas tertentu yang menjadi domain pasar tradisional dijual di toko moderen.

“Perlu ketegasan lagi soal larangan produk curah segmen pasar tradisional dijual di pasar moderen,” katanya.

Namun, soal zonasi pasar tradisional dan toko moderen, ia menjamin tidak ada yang berdekatan di Kota Jogja. Menurut Lucy, bukan soal zonasi yang menjadi pertimbangan, jumlah masyarakat juga jadi pertimbangan pendirian pasar moderen. (Ujang Hasanudin)

Sumber: Harian Jogja, 24 Agustus 2016 Halaman 1

1 thought on “PEDAGANG PASAR – Terancam, Ombudsman Teliti Pasar”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *