Pedagang Depan Stasiun Wates Resah, Wadul Dewan

Danar Widiyanto | Selasa, 28 Januari 2014

WATES (KRjogja.com) – Para pedagang depan Stasiun Wates resah, karena belum mendapat informasi jelas mengenai calon lokasi yang akan mereka tempati menyusul upaya penertiban pedagang setempat oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Manajemen KAI mengultimatum para pedagang akhir bulan ini harus pindah.

“Kami bingung, karena sampai sekarang kami belum tahu calon lokasi yang akan kami tempati, sementara batas akhir tanggal 31 Januari kami harus pindah dari kios lama di depan Stasiun Wates,” kata satu dari empat pedagang depan Stasiun Wates Didik Purwanto saat mengadukan nasibnya kepada Komisi II DPRD Kulonprogo, Selasa (28/1/2014).

Kepada para wakil rakyat, Didik Cs minta diadvokasi mendesak Pemkab mencarikan lokasi yang dapat mereka gunakan sebagai tempat berdagang. Didampingi Kabid Penanganan Laporan LOD DIY Buyung Ridwan Tanjung keempat pedagang tersebut diterima Ketua Komisi II Yusron Martofa.

Dalam upaya penataan Kompleks Stasiun Wates, pihak PT KAI minta pedagang yang ada di depan stasiun tersebut untuk pindah tanpa memberi alternatif lokasi baru bagi para pedagang.

Selama ini jumlah pedagang yang berjualan di depan Stasiun Wates tercatat 11 orang, tapi yang aktif berdagang hanya lima orang.

Menurut Didik Purwanto, beberapa waktu lalu Pemkab melalui Dinas Koperasi dan UMKM bersedia mencarikan lokasi pengganti. Tapi sampai saat ini belum ada informasi lebih lanjut mengenai letak lokasi pengganti dimaksud.

Didik mengakui, sewa tempat bagi para pedagang di depan Stasiun Wates memang telah  berakhir pada Desember 2013 lalu. Karena pemberitahuan agar mereka pindah baru diterima Januari 2014, maka mereka tidak bisa berbuat banyak.

“Lazimnya pemberitahuan dilakukan tiga bulan sebelum masa sewa habis,” ujar Didik.

Pedagang lain, Sri Suryani mengatakan, dari 11 pedagang yang ada sebenarnya yang membutuhkan lokasi baru hanya lima orang. Para pedagang, hanya butuh tempat saja. Kalaupun harus membangun kios sendiri pedagang sanggup, yang penting ada lokasi bagi mereka untuk berjualan.

“Posisi kami saat ini serba repot. Kalau tidak pindah kena gusur, sementara mau pindah kami tidak tahu harus pindah ke mana. Sebab kami tidak punya tempat. Mau mendirikan tenda, takut ditertibkan oleh petugas Trantib,” jelasnya.

Menanggapi keluhan para pedagang tersebut, Yusron Martofa berjanji akan memfasilitasi pertemuan antara pedagang dengan dinas dan instansi terkait. “Kami rencanakan pertemuan pada Kamis (30/1/2014) depan. Mudah-mudahan pertemuan itu nanti menghasilkan solusi terbaik khususnya bagi para pedagang,” katanya. (Rul)

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *