Pedagang Buah Was-was Terkait Penataan Kawasan Stasiun Wates

Jumat, 21 Februari 2014 Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO – Potensi konflik antar pedagang yang sempat dikhawatirkan para pedagang bekas penghuni kios stasiun Wates kini terbantahkan. Para pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di depan stasiun Wates tak berkeberatan jika mereka harus berbagi tempat dengan para pedagang pindahan dari stasiun tersebut.

Seperti diketahui, PT Kereta Api Indonesia (Persero) melakukan penataan kawasan Stasiun Wates dan membongkar belasan bangunan kios di depan stasiun. Para pedagang penghuni kios tersebut dijanjikan akan dibangunkan kios permanen di bagian timur stasiun dalam waktu dua bulan ke depan.

Untuk sementara ini, oleh Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, para pedagang tersebut ditempatkan di lajur selatan trotoar jalan depan stasiun yang selama ini sudah ditempati tiga lapak PKL.

Seorang PKL penjual pecel lele Lamongan, Nilam Juwantono, mengatakan dirinya tak merasa keberatan dengan keadaan tersebut. Informasi yang didengarnya, lapak jualannya memang akan dipindahkan ke sebelah timur, menyatu dalam satu blok dengan PKL lainnya. Sehingga, lokasi yang kini ditempatinya bisa digunakan pedagang pindahan kios stasiun tersebut.

“Kalau pemerintah menginginkan begitu ya nggak apa-apa. Berbagi tempat sama pedagang kios di sini juga ngga masalah. Yang penting ada sosialisasi terlebih dulu,” kata Nilam, Jumat (21/2/2014).

Di sisi lain, rencana penataan kawasan stasiun tersebut juga mendatangkan kekhawatiran tersendiri bagi para pedagang buah di depan stasiun Wates. Pasalnya, mereka akan ditarik untuk turut berjualan di kios yang dibangun PT KAI di dalam kompleks stasiun bersama pedagang di kios sebelumnya. Para pedagang buah yang berjumlah tujuh orang itu bahkan sudah menandatangani surat kesanggupan pindah.

Paiman, salah satu pedagang buah mengatakan, mau tak mau dirinya menyepakati rencana tersebut karena lokasi berjualannya saat ini dikabarkan juga akan dilakukan penataan. “Khawatir nggak punya tempat jualan. Sementara, kalau jualan di dalam, kami juga khawatir nggak bisa bayar uang sewa kiosnya yang kemungkinan lebih mahal dari kios yang kami tempati sekarang,” kata dia.

Saat ini ia hanya membayar sewa lahan kios di trotoar depan stasiun sebesar Rp 31.500 per bulan dan omzet dari penjualan buah berkisar Rp 500.000 per hari. Selain itu, ia juga mencemaskan akses jalan untuk pelanggan buah karena jika kios berada dalam kawasan stasiun sudah pasti pembeli enggan untuk mampir karena harus parkir di dalam stasiun.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kulonprogo, Sri Hermintarti, memandang kekhawatiran pedagang buah sangat wajar. Namun menurtnya, PT KAI dan pemkab sudah berkomitmen melakukan penataan, sehingga langkah yang diambil tidak akan merugikan pedagang. “Soal rezeki kita kan nggak pernah tahu. PT KAI melakukan penataan kawasan stasiun, tentu sudah berpikir soal akses jalan pembeli,” urainya.(*) Penulis: ing Editor: evn

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *