Layanan Jamkesmas Panti Jompo Dicabut

Abdul Hamied Razak

JOGJA – Puluhan penghuni panti jompo Wreda budi Darma Jogja sejak 2013 tak lagi menerima kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). Ironisnya, di lingkungan panti sendiri tak ada klinik khusus untuk memberikan layanan kesehatan bagi penghuni.

Kondisi itu menjadi persoalan yang dihadapi pengurus panti jompo tersebut. Pasalnya, penghuni yang sudah renta sangat akrab dengan penyakit. Selain itu, sejumlah penghuni ada yang mengidap penyakit komplikasi hingga kanker.

“Kami jelas bingung dengan kebijakan tersebut. Pernah tiga orang penghuni panti ditolak rumah sakit gara-gara Jamkesmasnya sudah tak berlaku, surat rekomendasi saya juga tidak digunakan,” keluh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Panti Wreda Budi Darma, Sih Harto kepada Harian Jogja, Selasa (18/6).

Menurutnya, pencabutan Jamkesmas bagi penghuni panti jompo tersebut disebabkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang baru. Sayangnya, UPT belum menerima penjelasan terkait aturan tersebut.

Padahal, tanpa perlindungan Jamkesmas, para lansia penghuni panti kesulitan mengakses layanan kesehatan.

Apalagi, di lingkungan tersebut tidak ada klinik khusus untuk memeriksa kesehatan para penghuni. “Kalau ada yang sakit biasa atau memeriksa kesehatan, ya perginya ke Puskesmas. Tapi, kalau harus diobati di rumah sakit tanpa Jamkesmas, maka biaya diambil dari uang operasional. Ini yang sampai sekarang menjadi masalah,” jelas pria yang akrab disapa Pak Sih itu.

Dalam setahun, sambungnya, UPT menerima anggaran sekitar Rp. 500 juta. Dana tersebut sebagian besar dialokasikan untuk operasional dan kebutuhan para penghuni panti mulai kebutuhan konsumsi sehari-hari hingga kebutuhan lainnya. Sih mengatakan, saat ini terdapat 58 penghuni dan beberapa diantaranya membutuhkan penanganan khusus.

“Ada satu orang yang terkena kanker dan harus melakukan cuci darah, bahkan sampai dua kali dalam seminggu. Kami berharap, ada perhatian lebih terhadap mereka. Kami pernah minta bantuan tenaga medis, tetapi banyak beralasan sibuk,” tandasnya.

Selain persoalan Jamkesmas, Sih mengaku risau dengan kondisi bangunan di lokasi tersebut. Pasalnya, selain beberapa bagian bangunan mengalami pelapukan, sejumlah bagian di panti tersebut sudah puluhan tahun lamanya tidak direhap. “Banyak kayu yang sudah lapuk. Ya, kami biasanya memperbaiki kerusakan kecil. Bagaimana lagi, sudah diajukan tetapi belum dapat tanggapan,” katanya.

Salah seorang penghuni panti, Dalisah, 75, mengatakan perlu adanya klinik kesehatan khusus untuk para lansia. Hal itu dilakukan agar para penghuni bisa ditangani langsung kalau ada yang sakit. “Ya, kalau sakit memang tinggal minta obat sama petugas. Tapi kalau ada dokter sendiri malah lebih baik,” harapannya. (hamied@harianjogja.com)

Sumber: Harian Jogja, Rabu, 19 Juni 2013 Halaman 1&11

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *