Kepala SMPN 3 Kasihan: Tak Ada Demo

Iuran sudah disetujui orang tua

Kasihan (KR) – Kepala SMPN 3 Kasihan Bantul Hj Sunarti mengakui, hari selasa lalu memang ada 54 siswa yang tidak masuk sekolah. “Tetapi tidak mogok,” tuturnya singkat kepada KR, Sabtu (15/10) di ruang kerjanya.

Ketidakhadiran para siswa itu menurut Sukardi SPd, guru di sekolah itu, ada yang kesiangan, ada yang memang izin sakit. “Ada juga yang mengatakan bangun kesiangan. Maklum bulan puasa,” terangnya. Namun kepala sekolah dan guru langsung konfirmasi kepada siswa yang menurut absensi tidak masuk dalam jumlah puluhan itu. Berdasarkan konfirmasi itu, Sunarti memperoleh penjelasan bahwa ada yang sengaja tidak masuk sekolah tanpa izin karena keberatan iuran Dewan Sekolah (bukan SPP) Rp 27.500 tiap bulan.

“Kebanyakan para siswa yang tidak setuju itu, belum diterangkan orang tua/walinya bahwa iuran sebesar Rp 20 ribu tahun sebelumnya sudah disetujui  357 orang tua/wali murid kelas 7, 8 dan III pada musyawarah pleno bersama Dewan Sekolah dan guru serta karyawan SMPN 3 Kasihan,” jelas Hj Sunarti menambahkan, beberapa siswa memang hanya ikut-ikutan tidak masuk sekolah hari Selasa, yang tidak tahu permasalahannya dan belum tahu sosialisasi APBS pada musyawarah pleno tersebut.

Dinyatakan, sejak musyawarah pleno itu hingga sekarang belum ada secara lisan atau tertulis orang tua/wali menyatakan keberatan iuran Rp 27.500,-. Kalau ada yang keberatan karena tidak mampu dan dibuktikan dengan surat keterangan dari desa, kami beserta Dewan Sekolah akan memperhatikan,” kata Kasek SMPN 3 Kasihan.

Dinaikkannya iuran dan penggunaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) menurut Hj Sunarti SPd sudah dijelaskan secara transparan dan terbuka. Telah diapaparkan rinci dan fotocopy APBS yang sudah disetujui Dinas Pendidikan, dibagikan kepada orang tua/wali munit. Meningkatkan mutu pendidikan di SMPN 3 Kasihan menurutnya menjadi prioritas, yang membawa konsekuensi iuran naik sehubungan harga-harga dan kebutuhan yang mendukungnya juga naik dan bertambah. Kenaikan Rp 7.500 itu juga mempertimbangakan penghasilan orang tua/wali murid yang sebagian besar buruh tani dan usaha swasta.

BOS di sekolah itu digunakan untuk membayar 2 GTT bahasa Inggris, guru agama Islam dan Katolik, Guru Biologi, Pembina Pramuka, Bela Diri, Tonti, Tari, Kerawitan dan Pembina Mading, serta untuk membeli buku praktik MIPA dan buku pegangan. “Apalagi, SMPN 3 Kasihan belum punya buku-buku Kurikulum 2004,” terang Sunarti yang menambahkan pula, hingga sekarang belum punya PNS guru Bahasa Inggris, karena kedua guru pengajar yang tetap, meninggal dunia.

Sekolah juga menggunakan untuk membayar honor 2 penjaga malam, 3 petugas kebersihan, petugas lab komputer dan petugas perpustakaan. “Melalui BOS, sekolah juga membantu 86 siswa dari keluarga miskin,” demikian Kepala Sekolah SMPN 3 Kasihan, Hj Sunarti SPd. (Sh)-a

Sumber: SKH Kedaulatan Rakyat, Senin 17 Oktober 2005

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *