Kepala SMAN 1 Diminta Turun

Dinilai Arogan, Kepemimpinan Otoriter

WONOSARI – Saat liburan sekolah berlangsung SMAN 1 Wonosari justru sedang bergolak. Kantin sekolah dibakar orang tak dikenal, kemarin (6/7) lima guru dan sembilan siswa mendatangi DPRD Gunungkidul menuntut kepala sekolah, Tamsir, dicopot dari jabatannya karena dianggap tidak professional dan arogan.

Kustini, seorang guru yang mendatangi Dewan, di bawah kepemimpinan Tamsir, ada kecenderungan memimpin dengan otoriter dan semaunya sendiri. “Jika model kepemimpinan yang dijalankan seperti ini kami sangat menyangsikan kemajuan dalam perbaikan sekolah,” kata Kustini, melalui sambungan telepon Rabu petang (6/7).

Sekolah yang berstatus Rintisan Sekolah Bertandar Internasional (RSBI) ini akan terganggu jika dipimpin seorang kepala sekolah yang tidak memiliki kemampuan bekerjasama. “Semua menyangkut tentang kepala sekolah sudah kami sampaikan kepada wakil rakyat di DPRD Gunungkidul,” lanjutnya.

Kustini menambahkan, dalam kesempatan bertemu dengan DPRD ada guru lain yang turut hadir diantaranya, adalah Suwarna, Mulyanto, Endah dan Hari Saputro. Para guru dan perwakilan para siswa ini kemudian membeberkan sistem kepemimpinan kepsek yang dinilai tidak pantas untuk perbaikan kemajuan dan mutu sekolah.

Sebagian dari isi surat menyebut, selama ini kebijakan kepsek hanya menjadikan sekolah sebagai institusi pelaksana teknis. Bukan sebagai unit pembelajaran sekaliguspeningkatan kualitas pelayanan di dalamnya. Selain itu, selama ini sekolah favorit yang disamdang SMAN 1 Wonosari hanyalah pencitraan belaka. “Sebelumnya kami sudah menghadap ke inspektorat dan Bupati, namun belum ada respon,” imbuh Kusrini.

Dihubungi terpisah, Kepala Sekolah SMAN 1 Wonosari Tamsir mengaku tidak merasa terkejut mendengar aksi yang dilakukan anak buah dan siswanya. Ia justru khawatir, langkah beberapa guru tersebut berbahaya bagi nasib siswa dan kegiatan belajar kedepan. Apalagi menurut dia guru-guru yang protes tidak semua paham apa itu RSBI. “Ini awalnya dipicu karena ketidakpahaman mengenai apa yang sedang saya lakukan untuk SMA kebanggaan Gunungkidul,” kata Tamsir.

Dia menduga aksi protes sebagian guru berawal dari berkurangnya jam mengajar. Sehingga praktis tidak bisa memenuhi kewajiban 24 jam mengajar. Selain itu, guru tersebut dinilai kurang mampu bersaing dalam hal kemampuan dengan sejumlah guru yang lain. Padahal, pihaknya harus selektif dan cermat untuk mengatur sistem pembelajaran RSBI yang ketat untuk meningkatkan prestasi siswa (gun)

Sumber: Radar Jogja Kamis, 7 Juli 2011 Halaman 16 Kolom 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *