Kepala Desa

Wustamto Tempuh Jalur Hukum

SLEMAN, KOMPAS – Pelantikan Sunardi, Kepala Dusun Beran, Margodadi, Seyegan, Selasa (27/7), berjalan lancar tanpa perlawanan fisik kubu Wustamto yang kalah. Karena merasa dicurangi, Wustamto tidak menerima hasil pemilihan kadus dan akan menempuh jalur hukum.

Kabar pelantikan Sunardi akan digagalkan Wustamto ditanggapi polisi dengan mengerahkan puluhan personel. Namun, hingga acara usai, tak ada unjuk rasa untuk pelaktikan Sunardi bebarengan pelantikan Ari Wibowo (Kadus Pendekan).

“Saya tetap tidak bisa menerima hasil pilkades,” ujar Wustamto, saat dikonfirmasi terpisah.

Bersama pengacaranya, Sugiarto, ia akan menempuh jalur hukum. Langkah pertama, ia sudah melapor ke Lembaga Ombudsman Daerah (LOD) DIY.

Saat pemilihan kadus Beran 5 Juli, Sunardi meraih 114 suara, hanya unggul satu suara dari Wustamto. Persoalan muncul karena kubu Wustamto merasa menemukan kejanggalan seperti petugas pemilihan kadus yang sebelum penghitungan suara tidak diambil sumpah.

Oleh Sugiarto, Camat Seyegan Aggoro dituduh ikut campur tangan mengesahkan beberapa surat suara yang sebelumnya dinyatakan gugur.

Pendapat senada disampaikan Hari, tim sukses Wustamto. Ia bersikeras surat suara terakhir yang dibaca petugas pemilihan kadus bergambar caping (Wustamto), namun dinyatakan bergambar pacul (Sunardi). Belum sempat disaksikan cermat oleh saksi, surat suara sudah dimasukkan kotak.

“Kami awalnya ingin surat suara dihitung ulang, namun sekarang ingin pilkadus diulang. Sebab bisa saja kotak surat suara sudah dibuka dan isinya diakali. Tak masalah kalau dipilkadus ulang nanti suara kami malah jadi kalah telak,” kata Hari.

Ditampik

Sunardi di sela-sela pelantikan di Desa Margodadi, menyatakan tidak tahu menahu tentang masalah tersebut. Ia merasa semua berjalan baik-baik saja. Ia tak punya masalah dengan warga. Ia tidak punya niat jelek terhadap kubu lawan.

Sementara Anggoro menampik tuduhan campur tangan saat perhitungan surat saat pemilihan kadus. Adapun Kepala Desa Margodadi Subandi berpendapat, semua sudah sesuai aturan. “Kami terbuka untuk dialog. Namun, yang jelas pilkadus tidak akan diulang,” kata Subandi. (PRA)

Sumber: KOMPAS, Rabu, 28 Juli 2014 Halaman C Kolom 1

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *