Calo Beroperasi di Rusunawa

SLEMAN – Rumah susun sederhana yang ada di Sleman, Kota Jogja dan Bantul banyak yang disalahgunakan.  Joko Nugroho

Calo mengaku bisa mengurus sewa dalam satu minggu. Orang mampu dengan membawa mobil banyak menghuni rusunawa. Rusunawa di Bantul hanya dipakai untuk tempat singgah.

Sejatinya, rusunawa itu dibangun untuk mereka yang berasal dari golongan menengah ke bawah. Hanya praktiknya, banyak warga yang mempu menempati rusunawa. Selain itu praktik percaloan untuk mendapatkan kaveling rusunawa juga terjadi.

Tercatat ada 13 rusunawa di DIY yang tersebar di Bantul, Kota Jogja dan Sleman. Di Sleman ada Gemawang I dan II, yang terletak di Mlati Sleman, kemudian, Mranggen, serta Dabag I hingga IV di Depok.

Di Kota Jogja Rusunawa terletak di Cokrodirjan, Tegalpanggung, serta Jogoyudan I dan II. Adapun di Bantul ada dua rusunawa yaitu di Panggungharjo, Sewan dan Tambak, Kasihan.

Berdasarkan penelusuran Harian Jogja, praktik percaloan terjadi di rusunawa Gemawang, Sleman. Untuk menyewa bisa dilakukan dengan mudah. Bahkan syarat utama sudah berkeluarga dan harus warga Sleman bisa dilanggar. “Gampang mas, nanti bisa urus Kartu Identitas Penduduk Musiman (Kipem). Kalau tidak punya saudara di Sleman, nanti bisa saya usahakan. Tapi nanti harga sewanya agak naik sedikit,” kata salah seorang calo, akhir pekan lalu.

Orang yang enggan disebutkan namanya itu bahkan bisa menjanjikan waktu yang cepat. “Yang penting nanti mas bilang kalau masih saudara saya saja pasti aman. Kalau tidak bilang saudara nanti malah ada kecurigaan dari pengelola rusunawa,” jelasnya.

Untuk harga sewa lantai III dia mematok Rp 300.000 per bulan, padahal aturannya Rp 210.000 per bulan. Penyewa juga bisa membayar lunas dalam setahun dengan tarif Rp3,3 juta.

Sekarang indekos di luar sudah berapa mas. Kalau kontrak juga tidak akan dapat harga segitu. Jadi masih murah kalau masuk rusunawa ini,” tawarnya lagi.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rusunawa Sleman, Sumadi mengakui masih ada praktik percaloan. Bahkan di Rusunawa Dabag, Desa Condongcatur, Kecamatan Depok masih terdapat dua yang dihuni tidak sesuai dengan pemilik aslinya.

“Untuk Gemawang sendiri masih ada 20% dan di Mranggen ada 15% yang tidak sesuai dengan penyewa sebelumnya. Kami sudah mulai tertibkan dan menekan dengan cara menyurati penyewa pertama,” jelas Sumadi.

Sumadi mengaku penghuni yang tidak tercantum di kartu keluarga (KK) mengaku pada petugas sebagai saudara penyewa. Hal ini sangat sulit untuk dibuktikan. Pasalnya tidak satu KK dengan penyewa pertama.

“Biasamnya bilang adik sepupu dari penyewa lama. Hal ini kan membuat kami kesulitan untuk melacak dan membuktikan. Namun kami bisa menekan dengan menggunakan persyaratan sendiri,” kataSumasi.

Dengan mengurus sewa sendiri tentu saja penyewa akan senang karena bisa membayar sesuai dengan harga aslinya.

“Kami pernah menemukan praktik percaloan karena ada bukti surat perjanjian bermaterai. Di sana orang yang menyewa harus membayar langsungselama satu tahun. Namun ini sudah kami selesaikan dan yang bersangkutan malah minta untuk pindah,” jelas Sumasi.

Sumadi tidak menyangkal jika banyak orang yang menyewa di rusunawa namun masih membawa mobil. Meskipun ada persyaratan gaji penyewa tidak boleh lebih dari Rp 2,5 juta.

“Saya belum mendata dengan pasti berapa jumlah penyewa yang membawa mobil ini. Namun yang pastiada puluhan. Namun pasti ada puluhan, sebab mobil-mobil banyak yang diparkir hingga jembatan penghubung rusunawa dengan perkampungan sekitar,” jelas Sumadi.

Tempat Singgah

Kondisi yang sama terjadi di Rusunawa Panggungharjo, Sewon, Bantul. Elmi, 33, salah satu warga penghuni Rusunawa Panggungharjo menuturkan, masih terdapat sejumlah kalangan mampu. “Di sini ada tiga lantai, kami tahu betul itu, memang bukan mobil tamu tapi memang mobil penghuni rusunawa,” tutur warga yang tinggal di Blok A tersebut.

Selain itu ada penghuni yang hanya datang setiap seminggu sekali. D luar itu, kamar kosong tak berpenghuni. “Kalau setiap malam Minggu ada sampai Minggu setelah itu enggak ada lagi, jadi cuma tempat singgah,” ujarnya.

Kondisi itu dengan tujuan Rusunawa untuk menolong warga tak mampu dan tak punya rumah. Sebab di luar sana puluhan warga miskin mengantre untuk tinggal di rumah susun murah. Keluarga Elmi misalnya mengantre hingga hampir setahun hanya untuk mendapat jatah Rusunawa.

Kendati masih ada penghuni tak tepat sasarannya, Rusunawa Panggungharjo pada tahun lalu sempat memperoleh penghargaan dari Kementrian Pekerjaan Umum lantaran pengelolaannya dianggap baik. Baik dari sisi kebersihan dan bebas dari praktik kecurangan seperti pemindahtanganan unit Rusunawa.

Terpisah, Kepala Bidang Cipta Karya Yudho Wibowo mengaskan, sejumlah larangan yang tak boleh dilakukan bagi penghuni Rusunawa diantaranya warga yang tinggal merupakan  warga tidak mampu, ada surat keterangan tak punya rumah, penghuni bukan pengusaha besar, PNS, TNI, Polri, penghuni sudah berkeluarga, punya penghasilan sehingga mampu membayar.

Satu blok dihuni 96 Kepala Keluarga (KK). Tarif sewa mulai Rp75.000-Rp175.000 tergantung letak lantai. Semakin di lantai atas, hunian semakin murah.

Di Rusunawa Graha Bina Harapan di timur Jembatan Juminah warga mampu mendominasi penghuninya. Yanto, salah seorang penghuni mengaku untuk dapat tinggal di rusun itu menurutnya tidaklah sulit. Miskin atau kaya menjadi ukuran. “Kalau miskin malah tidak bisa bayar. Di sini banyak yang kaya-kaya,” katanya.

Eko Triono, salah seorang pengurus mengaku hunian di rusunawa itu sudah penuh. “Antreannya sudah sampai 50 orang,” kata Eko.

Menurutnya, prosedur untuk dapat menyewa rusun juga dilihat dari penghasilannya. Namun ada kebijakan lain ketika yang bersangkutan komitmen membayar. “Nanti malah kasihan kalau di bawah UMP tidak bisa bayar,” katanya. (Bhekti Suryani, Andreas Tri Pamungkas) (redaksi@harianjogja.com)

Sumber: Harian Jogja, Senin 13 Mei 2013 Halaman 1 & 11

1 thought on “Calo Beroperasi di Rusunawa”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *