Biaya Sekolah Anak

“Kami Cuma Minta Diringankan”

Tak ada yang salah dengan keluhan para orangtua dan siswa di SMPN 3 Kasihan, Bantul. Keinginan mendapatkan keringanan setelah bantuan operasional sekolah atau BOS disalurkan, malah dijawab dengan kenaikan uang sumbangan pembinaan pendidikan atau SPP.

Oleh: IRMA TAMBUNAN

Ketika tak ada jawaban jelas akan kenaikan biaya SPP, gelombang protes pun berlangsung dua pekan terakhir. Mulai dari saling curhat para orang tua di warung depan sekolah, berlanjut dengan aksi mogok sekolah oleh siswa Kelas II dan III, hingga pengaduan siswa dan orang tua ke Lembaga Ombudsman Daerah (LOD) Yogyakarta.

Permintaan mereka sederhana saja, bahwa dana BOS dapat meringankan beban biaya sekolah, bukannya malah SPP yang makin mahal, yaitu menjadi Rp 27.500 per bulan, dari tahun ajaran sebelumnya Rp 20.000 per bulan. Kini, bahkan terjadi kesepakatan di antara para orang tua untuk tidak membayar sebelum pihak sekolah menurunkan biaya SPP.

Sabtu (29/10) kemarin, pertemuan para orang tua, siswa dan Dinas P dan K Bantul, difasilitasi LOD Yogyakarta, tidak juga menghasilkan progres optimal. Kepala Dinas P dan K Bantul, Sudarman, dalam pertemuan itu malah menyatakan tidak tahu-menahu persoalan yang terjadi antara sekolah, dan siswa, serta orang tua. Padahal, gelombang protes ini telah berulang kali diberitakan melalui media massa.

Selama lebih dari satu setengah jam pertemuan, hanya tercapai kesepakatan: Dinas P dan K akan menjadwalkan pertemuan kembali para orang tua, siswa, dan pihak sekolah.

Usai pertemuan kepada  Kompas, Sudarman hanya mengatakan, membengkaknya Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS) yang mengakibatkan kenaikan SPP, masih mungkin direvisi. Namun, tanpa memberi penjelasan lanjut, ia langsung pergi.

Salah seorang wali murid yang enggan disebut namanya, dalam pertemuan itu mengeluhkan pihak sekolah yang tidak terbuka menjelaskan perihal kenaikan biaya SPP, dan penggunaan dana BOS. Pihak sekolah bahkan dinilai tak memberi kesempatan bagi wali murid untuk bertanya. “Ini bagaimana, belum ada waktu untuk bertanya, kok tiba-tiba sudah di-tok. Orang tua hanya bisa bilang huuuuu…karena tidak diberi kesempatan bertanya,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihak sekolah semestinya memahami wali murid sangat memerlukan penjelasan atas anggaran sekolah yang baru ini. “Tidak semua wali murid itu bodoh. Kami juga pingin tahu, kenapa biaya SPP Rp 20.000 pada tahun lalu bisa mencukupi kebutuhan operasional sekolah. Saat pemerintah telah menyalurkan dana BOS, SPP malah jadi lebih mahal,” tuturnya.

Menilik daftar APBS yang disahkan, wali murid ini mengaku baru mengetahui adanya sejumlah anggaran yang terlalu berlebihan. Misalnya, ada anggaran bingkisan Lebaran bagi guru sebesar Rp 2 juta, dana Dewan Sekolah Rp 1,5 juta, serta insentif bagi staf honorer, dan anggaran pembangunan fisik.

Kepala SMPN 3 Kasihan, Sunarti SPd, menegaskan tak dapat mengubah biaya SPP. Meski sekolah menerima BOS, dana antara lain dialokasikan untuk beasiswa miskin.

Kasus SMPN 3 Kasihan, Bantul, diduga hanyalah satu dari banyak “kejadian serupa” di sekolah lain.

Itu sebabnya, dr Sunarto Kepala Bidang Pendidikan dan Penelitian LOD DIY, melihat konteks masalah pada kecenderungan lemahnya kontrol Dinas P dan K terhadap pihak sekolah, dalam hal pengalokasian APBS pasca bergulirnya BOS. Banyak sekolah yang membengkakkan APBS, justru setelah dapat bantuan. APBS yang membengkak lagi-lagi dibebankan kepada orangtua.

Kebijakan pemerintah menggulirkan dana BOS bagi SD dan SMP, serta bantuan khusus murid (BKM) yang cair Sabtu (29/10), tentunya memberikan harapan dapat meringankan beban masyarakat dalam bidang pendidikan. Lebih jauh, ialah peningkatan kualitas pendidikan. Sehingga, setiap kompensasi atas beban masyarakat benar-benar sesuai tujuan awal.

Maka, sangat wajar ketika salah seorang wali murid di akhir pertemuan ini kembali bergumam, “Kami enggak minta macam-macam kok, cuma minta diringankan.”

Semoga, jenjang hilir kebijakan pemerintah, yaitu dinas-dinas, dan sekolah memahami kesulitan para orang tua itu.

Sumber: Kompas, Senin 31 Oktober 2005

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *