Belajar Mengajar di SMP dan SMA 17 Kacau Lagi

Tragis, Cagar Budaya Dihancurkan

YOGYA (KR) – Dunia pendidikan di Yogya terusik lagi. Bahkan para siswa SMP dan SMA “17”1 Yogykarta kembali tidak bisa belajar dengan tenang. Sebab bangunan sekolah tersebut dirusak sekelompok orang. Lebih tragis lagi, objek perusakan termasuk bangunan cagar budaya.

Ketua II Yayasan Pengembangan Pendidikan 17, Gatot Raditya, merasa sangat prihatin atas perusakan bangunan sekolah serta cagar budaya di kompleks SMP dan SMA 17 Yogyakarta. “Dulu di sini tempat berkumpul tentara pelajar untuk menggempur Belanda. Kami pun nguri-uri bangunan itu dan menjadikannya sebagai tempat pendidikan. Tetapi justru dirusak begini,” ungkapnya saat dikonfirmasi KR, Rabu (15/5).

Terkait terjadinya pengerusakan bangunan cagar budaya itu, pihaknya sudah koordinasi dengan Dinas Kebudayaan DIY. Sebab, pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan nilai sejarah suatu bangunan.

Saat ini, ungkap Gatot, justru keberlangsungan pendidikan siswa-siswa yang harus segera diselamatkan. Upaya mencari ruangan kelas guna proses kegiatan belajar mengajar masih dilakukan. Antar lain dengan menjalin komunikasi dengan Universitas Janabadra yang dulu pernah menjadi tempat belajar SMA 17.

Tri Sasono Widagdo SH alias Dodot, salah satu kuasa hukum Ketua Yayasan Pengembangan Pendidikan Tujuhbelas Yogyakarta, Ir Muhammad Bashori MSi, menjelaskan, bangunan SMA 17 yang dirusak saat ini masih dalam sengketa. Lebih dari itu, bangunan sekolah yang terletak di Bumijo Jetis Yogya itu merupakan cagar budaya. “Kami mengetahui adanya pengerusakan dari sejumlah saksi. Ketika kami sampai di SMA 17, ternyata para pelaku sudah kabur,” ujarnya.

Diungkapkan, bangunan yang dirusak itu hingga kini masih sebagai objek sengketa antara kliennya dengan tergugat Beda Sakti Rinharjanto SH dan 6 tergugat lainnya, berdasarkan putusan perdata No 49/Pdt/G/2012/PN/YK. “Masih ada proses hukum selanjutnya yang sampai sekarang belum diputus. Belum ada putusan hukum tetap,” jelasnya.

Terpisah Kepala Bidang Sejarah Purbakala dan Museum Dinas Kebudayaan DIY, Nursatwika menjelaskan tak akan mencampuri persoalan hukum dan sengketa yang ada. Tapi karena bangunan yang ada di SMA 17 termasuk cagar budaya golongan C, pihaknya tidak bisa tinggal diam jika dirusak atau dirobohkan.

“Karena bangunan termasuk cagar budaya golongan C, penanganan dan pelestarian dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) DIY. Saat kami melakukan pengecekan, atapnya sudah dibongkar tanpa adanya pemberitahuan ke Dinas Kebudayaan. Karena itu kami meminta agar perusakan dihentikan. Bila tidak dihiraukan, kami berencana membawa ke ranah hukum. Sebab, karena bangunan cagar budaya harus dilindungi sehingga tidak boleh dirusak atau dirobohkan,” papar Nursatwika.

Kepala SMA 17 Yogyakarta Suyadi SPd menjelaskan, sejak Senin kemarin proses belajar mengajar terpaksa diliburkan karena kondisi sekolah yang sudah tidak memungkinkan untuk belajar. Karena atap sekolah sudah dicopot. “Kelas 10 dan 11 terpaksa kami liburkan. Sebagian anak-anak hari ini ikut membantu mengangkut perabot sekolah untuk dipindahkan,” katanya.

Rencananya, kelas 10 dan 11 proses belajar mengajar dipindah ke SMP 17’1 yang berada di Gowongan Lor. Sedangkan kelas 12 hanya tinggal menunggu kelulusan. “yang sedang kami pikirkan, bagaimana kelas 10 dan 11 agar bisa belajar dengan lancar. Makanya sementara ini kami pindahkan ke SMP 17’1 Yogya,” ujarnya.

(Zie/Ria/R-9/Sni)-b

Sumber: SKH Kedaulatan Rakyat, Sabtu, 17 Mei 2013 Halaman 1 & 7

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *